halaman

Tampilkan postingan dengan label GEtar Naluri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEtar Naluri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

Tidak tahu

Cukup lama tidak menari-nari lewat kata-kata di blog. sedang hibernasi. Semakin tahu justru semakin tidak tahu. Semakin banyak mendengar justru semakin tidak bisa mendengar.

Semakin bisa melihat dunia, justru semakin tidak bisa melihat dunia itu sendiri.

Sebetulnya saya punya pengalaman tidak mengenakan saat menulis pemikiran saya di blog, karena tidak semua orang yang baca berkenan dan bisa menerima secara terbuka. Mungkin di situ letak kekuatan kata-kata. Belajar dari situ saya beranggapan bahwa apa pun kata-kata yang tertulis pasti akan ada keberpihakannya; tidak melulu memenangkan buat salah satu pihak.

Kita di kasih kelebihan punya akal dan dengan sendirinya kita punya asumsi. Buat saya ketika orang tidak lagi berasumsi maka ia MATI. Secara jasad mungkin ada.
Nah, yang kadang bikin kebelinger, kita memupuk asumsi kita berlebihan, kita mempercayai asumsi kita kelewat dari diri kita sendiri. Bahkan kita terbentuk dengan asumsi-asumsi dari seseorang yang diamini komuninya.

Siapa yang mencari kebenaran, siapa pula yang merasa paling di benarkan. Akhirnya semua begitu abu-abu. Kenapa kita sibuk mencari kebenaran?
Apa dengan begitu kita akan memenangkan sesuatu? apa yang kita menangkan?

Asumsi kita sangat berpengaruh dari apa yang kita geluti sehari-hari, dari kecil sampai sekarang. Dari apa yang kita lihat, dari apa yang kita kunyah sampai dari apa yang kita kultuskan.

Sampai dimana pun manusia akan bisa berasumsi. Manusia akan punya pemikiran. Karena Allah SWT memberikan kita akal. Lalu saat kita terlalu asik dengan asumsi kita, apa yang terjadi? kita menutup hati kita. Kita melihat segala sesuatu dari apa yang kita yakini saja, dari apa yang kita anggap itu benar di keyakinan kita. Kurang jelaskah bahwa kita tidak bisa menjadi betul-betul benar?

sumber: http://www.mmorpg.com/photo/337eb728-fd65-489c-941b-0cfcb3152e8b


Agama bagi saya adalah petunjuk untuk menjani hidup dan kehidupan setelahnya. Pikiran awam saya selalu gelisah, kenapa agama bisa jadi alasan pemaksaan bahkan pertumpahan darah.

Apakah agama yang kita anut lebih kita yakini dari asumsi kita saat ini?

Saya selalu merasa mencari Allah; padahal saya tahu Allah ada di sekitar kita. Bahkan dekat sekali. Lalu buat apa saya mencari?

Saya berusaha tetap didekati Allah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena saya menyakiniNya.

Terlalu sentimentil memang membahas keyakinan. Kata orang Indonesia, terlalu sensitif. Kenapa?
Karena keyakinan itu ada di dalam, murasuk dan meyatu dengan ruh.

Lalu mengapa kita ribut dengan kayakinan orang lain saat kita sudah meyakini keyakinan kita. Dunia tak akan berubah saat keyakinan kita di ikuti orang lain. Keyakinan itu ada di dalam. Bukan di mulut, bukan di tingkah laku. Apa yang kita lihat kadang bukan yang sebenar-benarnya.

Biarlah jasad dan ruh kita meyakini apa yang di yakininya. Agama terlalu rendah bila di jadikan alasan untuk saling mencerca, saling menitipkan kebencian bahkan saling membenarkan diri kita.

Karena sebenar-benarnya manusia dia tidak mungkin benar seutuhnya. Kita ini kecil.
Kecil banget.


Wallahualam.
Maha benar Allah dengan segala firmanNya.



Sabtu, 14 April 2012

Sepeda Motor (ga mau kalah)

Mengeluh soal macet ga akan ada guna di Jakarta. Dari ujung ke ujung semuanya pasti ada titik itu. Selebar apa pun jalan tetep pasti lama-kelamaan akan padat. Jumlah kendaraan semakin sumpek.

Berhenti lah mengeluh! Jalanan punya banyak cerita. Punya setumpuk ide yang terselip disana.

....

Pengendara sepeda motor nyemut setiap hari. Tengoklah setiap lampu hijau di pacu, persis kaya balapan motor. Sepeda motor bisa nyalip-nyalip, bisa melaju di tengah kemacetan. Satu lagi sepeda motor bisa bikin orang merasa sama-sama satu keyakinan lewat komunitas-komunitasnya.

Stop sampai mendeskripsikan sepeda motor! semua pasti udah bega sama itu. Tengok sebentar hal lain...

Kebiasan yang sering gue temuin pengendara motor kaya DIKEJAR SESUATU apa lagi NGEJAR SESUATU (teteh Sharini pasti demen nih seuatunya gue sebut berulang-ulang).  Kenapa ya? Kalo merasa dikejar, dikejar apa? siapa?
waktu kah?
Deadline kah?
Keluarga kah?
Pacar kah?
Kerjaan kah?
atau Tuhan kah?
Yang jadi pertanyaan gue, "kenapa mesti ngerasa ladi dikejar-kejar?". Apa ada yang buntutin si pengedara, jadi si pengendara berasa takut ketangkep. *garuk-garuk kepala

Atau kalau lagi ngejar sesuatu, apa juga yang dikejar. *garuk-garuk kepala lagi (kali ini karena ketombean)

Kalau memang jiwa pengedara motor kita serba cepat, tukang salip tukang ngebut. Kenapa sampai sekarang kagak ada yang masuk motor GP. Sekalian dong, kalo jago ngebut!!

Berbahagialah gue kalau ternyata mindset pengendara motor di ibukota tukang salip dan ga mau KALAH. Kenapa bahagia... ya paling ga masih ada keinginan untuk maju hehe. Kenapa sih jiwa tukang salip dan ga mau kalah itu ga di tempati buat hal-hal lain... Bangsa ini udah parah sob. apa yang bisa kita majuin ke orang-orang di luar sana kalau kita "Bangsa yang besar".. slogan itu cuma ada di buku PPKN.

Kenapa ga sekalian salip tuh negara-negara asia tenggara. Salip juga jepang... atau sekalian Salip Cina. Malah kenapa ga di pake buat nyalip kehebatan teknologi, pengetahuan, sumber daya manusia di negara-negara maju... lagi-lagi kita cuma berani nyalip metromini.

Izinkan diriku juga berkaca. Kalau memang kita bisa serba pingin cepat dari yang lain (faktanya di jalanan pengendara seperti itu) Kenapa kita terlalu lambat bergerak maju dalam segala aspek..
Kenapa kita terkenal manusia-manusia lambat dan ngaret.
KENAPA kita semua rela bangsa lain nyalip kita dengan segala kemajuannya.
Apa kita cuma figuran? kalau memang figuran sekalian aja deh kita jadi figuran yang paling total.

(Satelit Palapa, zaman ini sudah berakhir!! kemana jiwa para penemu itu)


Kenapa jiwa cepat, ngebut, tukang salip ini ga di aplikasiin di segala bidang.
Cari cara energi ini bisa tepat guna. Bisa jadi energi positif atau ga usah muluk-muluk deh... paling ga kita bisa NYALIP KEBIASAAN  KALAU KITA INI TIDAK BOLEH PINTAR. CUKUP TAHU. SAMPAI TAHU SAJA. Kenapa kita ga mau nyalip kebiasaan ini.

Seharusnya kita bisa bergerak, bahkan melajuuu. Karena jiwa pengendara motor ini ada di setiap lapisan masyarakat kita.

GA MAU KALAH!

Rabu, 22 Juni 2011

Kuyu

Pagi itu gue masih terjaga, waktu dimana kebanyakan orang sedang terlelap. 3:43 AM waktu menunjukkan di monitor komputer. Ada beberapa hal yang harus di selesaikan pagi itu. Saat seperti itu gue lebih suka tidak mendengarkan musik dari iTunes, dengan begitu gue punya kesempatan bertegur sapa dengan sosok di dalam diri gue.

Ritual kecil yang menjadi rutinitas.

Pagi itu sosok itu tidak akrab, sulit sekali. Namun ketika jam monitor menunjukkan waktu 4:00 AM gue di temani laki-laki bermata kuyu di samping. Matanya seperti berbicara tentang harapan. Gue nengok sedikit ke sosok itu lalu gue kembali bekerja karena sedang membunuh waktu.
Tidak terasa mata gue mulai "kereyep-kereyep", gue ambil sebatang rokok dari bungkus merah di depan mata. "Api....?" suara itu tiba-tiba memecah, pelan namun tiba-tiba.

Lelaki bermata kuyu itu menawarkan api. Lalu berbicara lebih pelan dari sebelumnya "tak usah terlalu melawan diri sendiri...". Setelah gue menghisap rokok rasanya ingin menghentikan sejenak pergerakan mouse di tangan kanan, lalu menjawab pernyataan lelaki itu.

Gue pun terus mengerjakan potongan-potongan gambar dan tak berminat menjawabnya. "masih ingat dulu, kamu begitu mudah bercerita soal hidup padaku...". Pendirian gue tak sekuat itu ternyata, mungkin karena memburu waktu pekerjaan yang harus rampung jadi moodnya tidak setabil. "masa?" gue pun menjawab singkat.
"Air muka kamu banyak berubah sekarang. itu menurut aku"
Gue tatap muka laki-laki itu, rada bingung sih. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke bungkusan rokok di depan gue.

"...Maksudnya apa?" gue rada terbata-bata. Laki-laki itu tersenyum kecil tapi pandangannya tetap ke arah bungkusan rokok.
"Kalo mau rokok ambil aja kali..." gue coba mengambil alih suasana.
"Terimakasih." sahut laki-laki itu.

Gue putuskan untuk kembali mengambil mouse dan meneruskan pekerjaan. Hanya suara klik...klik...klik... dan hisapan rokok dari mulut gue yang sekarang terdengar. Tapi kenapa gue jadi ga fokus dan penasaran buat ngomong lagi sama laki-laki itu. Gue tahan keinginan itu, gue lawan sekuatnya.

"Tak usah terlalu melawan diri sendiri..." suara itu kembali memecah, tapi lelaki itu sekarang tidak duduk di samping gue. kayaknya ada di belakang gue. Gue menoleh pelan kebelakang, lelaki dengan mata kuyu itu menatap gue sekarang. Cukup lama saling bertatapan, tanpa kata-kata. Jari gue sampai berasa panas karena rokok yang di pegang mulai habis.

"Kamu lihat diri kamu. Sama seperti aku. Mata kita sama, muka kita sama, badan kita juga sama...".
Gue masih menatapnya dalam, "...hanya air muka kita yang tak sama sekarang."
Gue nahan panas rokok di jari yang semakin menaik, mulut gue susah bergerak. Suara gue ketahan di leher, gue coba menelan sisa-sisa ludah di tenggorokan. Karena lelaki bermata kuyu itu ternyata punya perangai yang sama kaya gue.

Hanya lebih muda saja.


(masa lalu yang males bernostalgia...)











Senin, 17 Januari 2011

Pagi di depan jendela

Lewat di jalan Jeruk purut menuju Antasri, sekarang sering terlihat pengamen-pengamen buta. 2 bulan yang lalu belum ada, sekarang jadi semakin banyak. Setiap lampu merah berhenti mereka mendatangi satu persatu mobil. Berharap ada uang 500 perak atau lebih bisa di dapat.

Gue termasuk yang tidak terlalu suka ada yang minta-minta. Anehnya selalu tergelitik ngeliat kaya gitu.

....



Kenapa Tuhan menciptakan hamba yang buta? tanpa bisa melihat. Gue sempet berfikir tuhan sayang sama mereka, karena di jaga matanya dari segala kenistaan duniawi ini. Mungkin Tuhan sangat sayang sehingga mata mereka di buat bersih dari dosa. Kadang gue juga mikir mereka ada untuk mengingatkan, atau memberi peringatan.

Kita yang normal supaya bisa lebih merunduk, dan bersyukur sama apa yang di beri Tuhan. Kita di kasih "tutorial gratis" sama tuhan.

Gue kadang cuma mikir doang, jarang banget ngeluarin 500 perak buat bantu ngeringanin pengeluaran harian mereka, pasti butuh makan lah.. walaupun ada yang "bantu" mereka-mereka itu (pengamen yang buta). kadang 500 perak ga ada artinya buat kita saat ada, tapi buat sebagian orang 500 perak begitu berarti...

Justru gue merasa mata gue lah yang di buat buta sama tuhan. Gue menyaksikan mereka secara langsung, tapi hati ini ga juga bertindak. Mata gue ada tapi tidak benar-benar melihat; gue buta.

Banyak mobil-mobil bagus yang berpenumpang buta, jumlahnya lebih banyak dari pada 10an para pengamen buta itu. Termasuk gue; pengendara motor butut... gue rasa Tuhan selalu punya sekenario yang ciamik. Kadang sulit di tebak, tapi sebetulnya gampang dicerna. Ngomong begini emang gampang, ngelakuinnya yang berat. Belum ngasih aja kita pasti sudah berasumsi yang tidak-tidak. 


Kita benar-benar MENUJU KEBUTAAN... sungguh malang kita, hidup bermata dua namun buta.

Sabtu, 08 Januari 2011

Mumet

Mumet.
di temani layar monitor gede, asap rokok dan setengah air yang sudah mulai dingin.

Mumet.
Semua waktu jadi tubrukkan.

Mumet.
Mungkin sang pemilik waktu sedang menegur.

Mumet.

Selasa, 04 Januari 2011

Replika Monyet bertangan empat

Anggaplah ini fitnah, jadi ga perlu dipercaya 100% (namanya juga fitnah, dosa kalau dipercaya...).

....

Sebutlah negeri Pisang. Empuk, berserat, bersahaja. Punya ambisi dan toleransi, terdengar ramah namun anarkis. Segala sektor hampir di isi monyet-monyet bertangan empat; megang pisang di setiap tangannya. Kadang dimakan, kadang di umpetin.

Negeri Pisang punya kebanggan, salah satunya cabang olah raga. sebutlah Bulutangkis monyet, Sepak bola monyet dan Voli monyet. 3 olah raga yang begitu membumi di negeri ini. Hingga saat ini.

Sepak bola monyet selalu melahirkan cerita-cerita. Mayoritas menyukai dan bisa menikmatinya. Hingga tibalah masa di mana negeri Pisang di sibukkan dengan kepentingan-kepentingan para monyet yang memiliki kekuasaan.

Pisang Super Liga yang dulunya bernama Liga Pisang sudah 14 tahun bergulir. Dalam usia itu segala bentuk penyempurnaan terus di kejar. Mulai dari pendanaan hingga kompetisinya. Lucunya Liga ini selalu grogi setiap akan memulai kompetisinya, jadwal kompetisi seperti tidak pernah paten di negeri ini.
Dengan segala persoalannya Liga ini tetap berjalan dan diminati.

gue termasuk yang mengikuti perjalanannya, walaupun ga hatam. Masih teringat saat pertama kali Liga ini ada, animo masyarakat masih kecil. Hanya klub-klub yang punya nilai historis yang di padati penonton. Sisanya ala kadarnya. Hebatnya berita ricuh antar sporter sudah ada dari dulu... Sempet ngayal "kapan ya negeri Pisang ini punya suporter yang padu dan terorganisir???".

Waktu pun menjawab, di awal tahun milenium perlahan namun pasti suporter mulai terorganisir. Stadion di isi dengan nyanyian dan yel-yel kreatif. Rasanya optimis bahwa negeri ini semakin dewasa.

....

Dari mana dana klub Pisang Super Liga buat ikut kompetisi ini?
Sponsor (yang tentunya bukan kompetitor sponsor utama Liga nya), dari tiket masuk, donatur dan dari pemerintah daerah. Kenyataannya itu belum cukup. Ada ajah klub yang gulung tiker karena persoalan dana. Klub negeri pisang dari kota kembang pernah berjaya di awal liga ini,  namun sangat mengenaskan harus gulung tikar.

Dari pemerinta daerah cukup besar dana yang di suntik ke klub-klub peserta (terbagi untuk klub peserta Pisang Super Liga dan Devisi Utama Pisangnya). Setiap tahun dana ini di anggarkan. Sehingga klub punya tambahan "darah". Tinggal pinter-pinternya klub buat mengelolanya.

Nah, apa bener dana yang turun sesuai dengan yang di anggarkan? Ini dia negeri Pisang. Di huni monyet-monyet bertangan empat. Dari yang terkecil sampai yang terbesar pasti yang namanya "potongan" selalu ada, dan DIMAKLUMI. luar biasa!

Anggaplah dari dana itu 10% kena "potongan". Kalau di kali jumlah klub yang ada di 2 kompetisi kayaknya cukup buat beli pisang 70 truk. Kemana potongan itu? ya tanyalah pada rumput yang bergoyang. Celakanya kalau dana itu dari pemerintah daerah, pastinya dana itu di dapat juga dari warga-warganya (lewat pajak dll). Berarti duit warga terus ajah di "potong" sama monyet-monyet. Emang dasar monyet bertangan empat!

....

Kini muncul-lah gagasan di buat Liga baru. Bernama Liga Premier Pisang (LPP). Dengan visi setiap klub di benahi dan dikelola secara profesional. Klub di didik untuk mandiri dan mampu mengambil pemasukkan diluar penjualan tiket saja. Tentunya tidak mudah, butuh waktu...(inget cerita suporter diatas). Tapi kalau tidak di mulai kapan lagi..

Masa duit rakyat terus-terusan yang di "potong" sama monyet-monyet?? ga rela dan ga sudi. Mending anggaran daerah itu buat bikin fasilitas olahraga yang lebih MANUSIAWI. lebih memberikan kenyamanan bagi atlet dan penonton. MASA GA BISAAA???!

atau untuk mendidik generasi muda, bikin sekolah atlet dengan fasilitas internasional kek! dana-in klub-klub yang punya anak didik di bawah usia 14 tahun. Mulai lah membuat program untuk 10 tahun kedepan. Dengan proses yang benar dan bertahap. Sehingga pemain juga matang dan kompetisi juga berkualitas. Masa ga bisa???

Butuh waktu memang, tapi mari di mulai. Atau takut jatah pisang di tanggan jadi berkurang?

Semoga LPP tidak didirikan untuk menjaring monyet-monyet bertangan empat yang baru. Cukuplah monyet-monyet profesional dan CERDAS membuat industri Sepak bola di negeri Pisang ini bergairah. dan Berprestasi.

Salam hangat,
Monyet Geregetan.    

Kamis, 16 Desember 2010

Kami datang ke stadion

Tak ada yang bisa melukiskan bernyanyi Indonesia Raya sebelum pertandingan bola di Gelora Bung Karno/ Senayan. Bersama ribuan orang saling membentangkan semangat; uforia yang membuat suasana mendadak jadi magis. Hanya sebuah nyanyian dan mampu membuat semuanya sekata.

...

Saat perhelatan AFF 2010 sedang berlangsung, saya rasa tidak seperti sebelum-sebelumnya. Karena pertandingan Indonesia menjadi magnet bagi masyarakat. Ini pernah dirasakan saat Piala Asia di gelar di Indonesia. Gue mencermati ada kelompok suporter.

Pertama, Suporter fanatik, yang dialirkan klub-klub Indonesia. Suporter ini sangat setia. Mau menang atau pun kalah tetap bernyanyi dan menari. Kadang suporter ini bersatu dengan kelompok-kelompok lainnya.

Kedua. Suporter Indonesia yang tidak di koordinir. Untuk yang ini, penonton yang suka sepakbola dan cukup mengikuti perkembangan sepakbola. Biasanya yang memang niat mau nonton tim nasional. mereka bela-belain biar bisa nonton tim nasional berlaga.

Ketiga. Suporter Ajakan. Suporter yang diajak sama temennya atau saudaranya. Pengen tau kaya apa nonton di stadion, rasa penasaran itu terbayar saat bisa merasakan magisnya stadion. dan di ajang AFF ini kelompok supoter ini begitu menjamur.

Keempat suporter rusuh. Nyari-nyari ruang buat eksis lewat otot. Tapi loyalitas mereka sangat tinggi buat sepakbola Indonesia. Sayang belom cukup dewasa dalam bersikap seperti suporter. Tak apalah bumbu penyedap sepakbola, biar ada drama-dramanya... kelompok ini bisa di bilang kecil.

Kelima. Suporter dadakan atau gue sebut karbitan. Ajang AFF ini menjadi uforia para remaja, ibu-ibu, keluarga untuk datang ke stadion. Bahkan kedatangan mereka yang pertama di stadion. 2 mobil berisi remaja wanita dan yang satu lagi satu keluarga bertanya didepan gue "Istora di mana ya mas?" padahal mereka di depan hotel Atlet persis didepan Istora senayan/ Gelora Bung Karno. hehe...
Atribut mereka lengkap. dan keliatan celingak-celinguk. Kayaknya pertama mereka nonton bola di stadion, atau jangan-jangan pertama ke senayan.
Baguslah selama ini sepakbola terkesan rusuh dan cowo banget, akhirnya saat ini bisa di nikamati berbagai kalangan. Bahkan banyak keluarga yang membawa anak kecil dipertandingan. Sungguh kemajuan. Mudah-mudahan tidak berhenti sampai AFF yang punya cerita tentang Irfan Bacdim semata.

....

Apa pun itu setelah penantian panjang rasanya memang tim Nasional patut untuk di dukung.
Pertandingan sepakbola juga semestinya mampu menjadi wisata kepenatan bagi masyarakat kota besar, dan ajang membangun rasa kebangsaan bagi generasi muda. Dari pada nongkrong di belokan sambil makan hotdog...



Beneran deh serasa pensi stadion sekarang... malah lebih tepatnya mall

Minggu, 07 November 2010

Menepi

Menepi

Jumat, 09 April 2010

Blog ini jadi saksi


Januari 2009 gue cukup intens tuker pikiran sama mas Lanang (alm.) Ada beberapa postingan yang tersimpan di blog ini... dan punya kegelisahan yang sama tentang kelokalan dan nusantara, infonya kadang gue ga terlalu tau tapi dari obrolan itu jadi ngeh...

Beberapa link postingan itu :

Tengkyu Nang!

Rabu, 07 April 2010

Lanang Lega Dilaga



Pertemuan dalam project video klip Janice. Dari situ penilaian gue kalau Lanang orang yang total. Ngurusin dari mulai ribetnya import data kamera F355 sampai ngedit offline. Singkat memang...

Setelah itu sempat beberapa project bersama tapi sebuah pertamanan yang tercipta rasanya lebih bernilai dari pekerjaan kita.

...

Penuh kejutan. Ada di kawan gue ini. Lebih dari itu gue mengenal sosok yang taktis namun ga banyak bicara langsung. Anehnya kalo lagi berdua ngobrol dia bisa jadi temen yang hangat buat tuker pikiran. Beberapa bungkus rokok dan malam menemani kita Nang... keseriusan dan kekonyolan kita lewatin, selalu gue simpen itu. Temen yang selalu total kalau ngebatuin. Walaupun suka ga bisa menetupi keemosiannya, buat gue elu sosok dewasa Nang.

Romantis. Tampilan elu yang cuek ga bisa nutupin keromantisan, kehangatan dan perhatian elu ke orang-orang yang elu anggap berarti.

Bahkan sama orang yang baru kenal pun elu hangat dan bersahabat.

Gue sampai lupa kapan kita berkenalan saat project klip Janice itu, rasanya baru beberpa tahun yang lalu. Tapi gue kenal elu kayak udah lama. Kadang elu ngasih pemikiran dan masukan buat gue. Walaupun kita ga pernah menyentuh wilayah pribadi diri kita masing-masing.

Gue kenal Lanang yang ga mudah nyerah dan tenang walau dalam kondisi tertekan. Dalam pekerjaan gue liat itu... bahkan dalam waktu yang sempit sekalipun.

Banyak yang masuk di hidup gue, dan elu salah satu yang masuk dan ngasih bekas. Punya arti...

....

Januari 2010 kemarin elu mulai sakit, sampai detik elu kritis pun gue ga pernah ketemu langsung lagi sama elu. Gue cuma ketemu pas pinjem charger mac, itu pun elu mulai sakit. Paling kita ketemu di dunia maya, gue cuma seru-seruaan doang sama elu, kali itu intensitas ngonrol kita memang semakin berkurang. Gue pernah tanyan "Udah sembuh nang?"... elu jawab "udah". Gue rasa elu memang merasa ga pernah sakit, karena elu punya sikap.

Nang gue tau elu mungkin ga akan bisa baca blog ini, karena elu udah disana. Penyesalan gue yang ga bisa nemuin elu pun ga akan ada guna "Nyesel cuma buat bencong!"

...

6 April 2010 elu benar-benar istirahat. Elu menutup keduniawian  di tempat yang elu selalu suka; rumah.  hari itu dimana niatan gue buat dateng setelah Jati jam 2 pagi ngabarin tentang kondisi elu yang makin turun.

Nang gue tau elu suka diperhatiin walaupun kadang elu enggan. Gue cuma bisa merhatiin ketika di hari elu menuju hidup baru. Gue lihat di hari itu elu begitu dicintai banyak orang, di facebook elu begitu banyak doa dan simpati. Mungkin elu ga akan bisa bales komentar mereka di facebook sekarang, tapi disitulah gue melihat elu begitu berarti.
Tengkyu nang, gue selalu merasa elu tetep ada. Karena kita jarang bertemu. Sekalinya ketemuan kita bisa gila-gilaan sampe lemes. Gue tetep merasa kelakuan elu tetep hidup. Gue tetep merasa kalau blog ini jadi catatan pemikiran elu, beberapa postingan disini hasil diskusi kita berdua... terutama kegelisahan tentang kelokalan dan nusantara.

....

Selamat hidup Nang; elu baru saja memulai kehidupan...

Tetap lurus ya Nang...

Selasa, 09 Februari 2010

HEro!

Ada beberapa orang yang menjadi inspirasi buat gue dalam perjalanan ini. Ini cuma sebagian yang berhasil gue inget.
Spirit mereka yang menginspirasi dan menjadi lecutan gue dalam betindak. Memenuhi setiap impian gue menjadi kreator dan manusia seutuhnya.
Tatang S - Takeshi Maekawa - Hilman Hariwijaya

Zaman kecil gue di temenin sama komik-komiknya petruk karya Tatang S, buat gue itu komik tersukses di Indonesia buatan lokal. Bisa bikin berkesan di masanya. Setelah itu Kungfu Boy juga jadi pembelajaran buat gue, sosok Takeshi Maekawalah yang memberi jiwanya. Hilman Lupus lebeh gue kenal, ini dia yang bikin gue seneng baca cerita yang penuh imaji, lupus kecil juga jadi bacaan gue zaman kecil.

Eddie Cahyono - Wahyu Aditya - Dimas Djay
Tanpa di sadari film pendek Eddie Cahyono "Masa Lalu dan Masa Sekarang" yang bikin standarisasi gue buat bikin karya di film pendek. Wahyu Aditya juga gue liat dari zaman SMA, waktu masih festival konfiden. Dia HEro animator di zaman 2000an, penuh semangat!. Dimas Djay bikin gue jatuh cinta sama video klip sekarang video iklan...pokoknya karyanya dia menginsiprasi.

Arief Budiman - Thomas Ramdhan - Dhani Ahmad

Arief Budiman sebagai inspirator pekerja seni yang komersil buat gue. Cerdas, hangat dan kreatif. Membangun Petakumpet dan mengangkat kelokalan. Thomas bikin gue ngiler kalo maen bass... Dhani Ahmad sosok yang tangguh juga musikalitasnya gue suka, dulu zaman SD sampai SMP gue banyak dapet kosakata baru dari lirik=liriknya Dewa 19..

tebe - Tio Pakusadewo - Bondan Prakoso

Dari Bang tebe gue kenal seni pemanggungan dan pandangan berfikir kreatif. Sampai sekarang juga masih penuh kreatifitas dan daya juang... Aktor beneran bagi gue Tio Pakusadewo, berkarakter. Dingin... Aktingnya juga enak, ga maksa tapi kuat. Bondan Prakoso, bassis yang bikin gue mau ngeband huehehe... tapi sayangnya ga pernah kesampen bisa kaya dia, lagu hidup berawal dari mimpi menyiratkan perjuangan gue dengan sudut yang berbeda.


Inspirasi bikin gue bergairah! 

ini video tambahan buat nutup postingan ini.


Kamis, 31 Desember 2009

Wajah baru di akhir....


Bisa kenal muka-muka baru, bisa liat orang yang selama ini cuma tau namanya lewat media. Suatu perjalanan yang ga pernah di rencanain tapi begitulah adanya. Banyak orang yang datang, ga sedikit juga orang pergi dari kehidupan gue...
Ada yang selewat ada yang ninggalin kesan. Tuhan selalu punya rencana terbaik.

Pertemuan itu akhirnya menimbulkan pertemanan dan kenyaman... semoga begitu. Suatu hari pasti akan terkikis, pertemuan akan bermuara denga perpisahan. Selakyaknya suratan yang ada.

Tahun ini gue di pertemukan dengan MEREKA-MEREKA yang mampu ngisi energi gue. Memperkaya wawasan gue, memperkaya energi kreatif gue... semuanya ada.
Sampai pada akhirnya kehilangan pun tak perlu di sesali hanya perlu di mengerti.

Teman lama kembali datang, teman baru bermunculan. Teman yang ada semakin akrab. Lalu semuanya ada untuk di jalani.
Nikamati saja, dan biarkan tuhan yang memutuskan.

Rabu, 16 Desember 2009

Laki-laki versi gue.

Sekedar pembicaraan di pagi hari di temani secangkir kopi hitam yang ga terlalu pahit. Di antara rutinitas yang mendesak. Sejenak, bertukar pikiran dengan sosok yang duduk di kursi malas di pojok ruangan.

Anggapan cowo, lelaki, laki-laki atau pun pria yang di beda-bedakan buat gue sama ajah. Intinya yah itu semua hanya sebutan, hanya mengkotakan umur dan status. Bahkan kalau orang bilang itu klasifikasi pola pikir kayaknya ga juga. anak kecil kek, remaja ataupun dewasa tetep kok jenis kelaminnya laki-laki yah laki-laki.

ini versi laki-laki gue... di zaman semeraut yang kata orang modern ini

Ga minta mulu, tapi ngasih
Bisa berdiri sendiri, menuhin kebutuhan hidupnya sendiri. Ga minta sama orang tua, malah kalo perlu ngasih ke mereka. Punya cara buat hidup dengan kemampuan sendiri, itu baru cowo...

Bisa jadi Imam

Apapun agama atau etnisnya, mesti bisa jadi Imam. Punya wawasan tentang itu.. bisa mimpin pas beribadah.

Bisa berenang

jadi pas ada banjir bisa nyelamatin barang-barang yang hanyut...huehehe

Bisa Ngomong
Bisa nuangin pemikiran dan pendapatnya lewat omongan... bisa komunikasi antar personal. ga mesti kaya om Mario Teguh, minimal ke orang terdeket bisa ngomong pake hati... ke orang tua lah contohnya.

Bisa Naek kendaraan umum

Tahan banting. Mau kena AC atau pun kena knalpot jalanan masih bisa hilir mudik. Membelah kota dengan angkot.

Bisa berkendara
Kalau bisa naik kendaraan juga nilai plus.. minimal sepeda lah. kalau perlu bisa nyetir pesawat biar keliatan lebih asik. bisa bawa keluarga sama pesangannya liat kota dari ketinggian.



Bisa main alat musik
Kayaknya kalo nisa main alat musik tongkrongannya jadi beda, paling standart bisa maen gitar. Bisa main satu dua kunci juga udah cukup. lumayan jadi tiket mengakrabkan suasana. atau bisa main alat selain gitar juga tetep berasa punya sentuhan seni...huahaha



Bisa main game bola
Di tongkrongan manapun sering di temuin orang-orang yang maen Wining atau zaman sekarang PES, itu game bola. Kayaknya kalo ga bisa main kurang lengkap deh... hehehe ga mesti jago menimal bisa ikut seru-seruan.
kadang yang ga ngerti bola masih bisa main game ini...

huhehehe... masih ada lagi sih, tar gue lanjutin.

Terus si sosok yang di kursi malas bertanya "kalo elu udah jadi versi itu?". Gue jawab belom lah... berenang ajah gue ga bisa...

Senin, 23 November 2009

Uang, Tuhan dan Doa...

Persoalan hidup akhirnya di biaskan sama yang namanya uang. Uang; tuhan kedua saat di dunia. Semua lini kehidupan di buat ketergantungan sama uang. Alat tukar yang ganas dan menyejukan. Manusia rela banting harga diri, keringet sampe kemampuan buat bisa dapet uang. Kayaknya tanpa uang semuanya ga akan bisa berjalan.

"Siapa sih yang nyiptain alat tukar jadi uang??"

Kok akhirnya malah bikin manusia jadi kebelinger dan lalai segalanya. Uang menjerat. Gue emang perlu uang, tapi gue ga pingin uang ada di "atas" gue. Dia harus tetep ada di "bawah" gue. Dia ga boleh yang ngatur hidup gue, uang cuma alat. Alat. Bukan tujuan karena dia bukan Tuhan yang mesti di kasih porsi segitu.

Gue kerja untuk dapet uang memang tapi itu cuma imbas. Uang cuma efek dari tujuan kerja itu sendiri. Tujuan kerja buat gue ya ibadah. Sesederhana itu. Terlihat Naif memang, tapi memang seperti itu.

"Berapa kali sebelum mulai kerja kita berdoa??"

Doa akan datang saat kita dalam keadan sulit saat dalam kerja. "Ya allah kok susah amet sih nih client..." contoh doa yang mengeluh, sering dateng saat kita lagi kerja.

Ada obrolan bijak yang pernah gue dapet (sayang lupa sumbernya), coba deh pas mulai kerja baca doa dulu.. kalau niatnya untuk ibadah kerja pasti nikmat, masalah yang dateng insya allah akan ada solusinya.
Sebetulnya itu usaha untuk merubah pikiran kita. Kalau kerja untuk nafsu dapet duit, kedudukan bahkan pujian yang udah gue lewatin pasti hasilnya berantakan. Ada ajah kendala yang dateng. Tapi begitu kita "mengkosongkan" tujuan-tujuan yang itu dan di ganti sama ibadah.. ngejalaninnya kerasa beda. Semuanya sesederhana itu.

"Bismillahiromanirohim..." sekarang gue mau mulai kerja buat revisi PSA sensun.

Rabu, 11 November 2009

Hujan

Turun hujan di hari Kamis, rencana ke Wijaya seketika batal dah... rencana tinggal rencana.

...

Ada yang terencana dan mulus di lewatin tapi banyak yang ga tuh. Hal-hal yang gue rencanain ternyata di tengah jalan berputar haluan. Cuma bisa mengatisipasi akhirnya. Satu kejadia dengan kejadian yang lain kadang ga sesuai ekspetasi tapi ya itu lah jalannya. Kadang bikin mumet tapi kadang bikin senyum...

Senyum itu sekarang meredup di sana, gue tetap ga bisa ngerti. Tapi berusaha punya antisipasi... ini kayaknya jalannya. Semoga terlewati dengan berani dan berakhir dengan indah...

Rabu, 23 September 2009

NgeBlog di usia 2 tahun

Mulai cerewet!

Layaknya manusia di usia 2 th, mulai cerewet. Mulai nyari perhatian, mulai nyebelin. Juga ngegemesin...
Blog yg sering gue jadiin santapan juga belum banyak, kurang lebih yang ada di Link GElaskosong itu ajah, tapi dari situlah pencerahan datang menyinari huehehe...
Masih mencoba mencari bentuk terbaik dari blog ini, kalau pun ga sampe jadi yg terbaik paling ga tetep Maksimal. Biar nama blognya ga jadi sekedar tempelan.

...

Berkembang sesuai usia. Gue yakin itu akan terus berkembang, seperti hidup. Pandanga gue tentang hidup selalu bergerak, dinamis dan ga mau diem. Hasrat itulah yang mengembangkan gue, mengayomi sekaligus membesarkan gue di kesaharian ini. Seolah kaya orang tua bagi gue.

Tergelitik sama postingan Raditya Dika soal "Blog Diary anak SD", jangan-jangan tagamaksimal ini masih seperti itu? masih curhat dengan bentuk yg monoton. Bentuk yg ga jauh beda sama diary SMP gue yg bisa di baca banyak orang. Huh! rasanya masih begitu...

Kejutan di postingan gue yg mesti di benahi. Di kuatkan. dan di Tajamkan. Ini jadi target gue. Bagaimana membuat blog ini enak di baca, berirama kaya denger albumnya coldplay yang baru. Punya nuansa, bisa bikin orang pingin tau ada apa lagi di dalemnya. Pingin bikin tulisan yang emang Jujur.

Satu hal gue ga mungkin nyenengin banyak orang.

Jadi lewat tagamaksimal yg berusia 2 tahun ini (belom sampe sih) gue mencoba nyenegin sebagian orang. Lewat postingan, lewat pemikiran gue yang sering berkelebatan. Menyenangkan orang dan diri sendiri.. Manjadi anak-anak yang ga bosen terus di isi. Ga apa-apa jadi anak SD juga deh, biar semuanya dateng tepat pada waktunya. Mencari bentuk tulisan blognya sendiri

Ga perlu terburu-buru.

Seperti bloger-bloger kesayangan gue. Ga perlu terburu-buru kalo ngeBlog.

Senin, 21 September 2009

Skenario Tuhan di tahun ini

Selalu ada kejutan, mungkin ini tak ada yang memperkirakan.
Sebagai Ibu ia meminta anak-anaknya untuk hadir di sampingnya ketika malam bertakbir. Tapi kesibukan dan urusan masing-masing anak-anaknya membuat tidak bisa mengabulkan permintaannya.

...

Kejutan itu hadir. Ibu jatuh sakit, perlu untuk di rawat. Tak kuasa menahan kegelisahan anak-anaknya langsung bergegas menghanpirinya; akhirnya. Dengan penuh cemas namun berusaha memendam kegelisahan anak-anak ini akhirnya berkumpul.

Tepat di malam takbiran sekenario Tuhan, akhirnya mempertemukan keluarga ini. Hal yang di minta sang Ibu jauh-jauh hari sebelum ia jatuh sakit.

Kamis, 10 September 2009

Di depan banyak pasang mata

Ada di balik komputer dan di depan banyak pasang mata buat performance. 2 hal berbeda gue jalanin. Yang satu lebih memilih "hening" dan asik sendiri, yups... kala lagi di balik komputer gue jarang kerja pake musik (salah satu "hening" itu). Gue lebih suka ngobrol sama pikiran gue, lebih merasa nyaman kalau sepi... Begitu ada di depan banyak pasang mata, gue muncul sebagai sosok yg beda lagi. Keduanya mengasikkan...

Ada di depan banyak pasang mata buat berbagi cerita dan pemikiran lewat presentasi atau apalah itu sebutannya gue selalu merasa antusias buat ngelewatinnya. Berasa semua Indra yg gue punya diajak buat peka dan bekerja keras. Di situ gue merasa harus bisa mengkobinasikan semua Indra yg ada. Di situ juga gue di tantang buat membuat "suasana", membuat komunikasi gue mengalir tanpa perlu jadi pengkhotbah...

Entah kenapa, mungkin panggung lah yg membuat gue merasa nyaman ada di depan banyak pasang mata. walaupun saat ini masih belum mau ngejajal panggung itu lagi (teater). Beberapa tahun terakhir gue dapet kesempatan untuk berbagi lewat presentasi.



...
Sampai detik ini masih belajar untuk membuat presentasi yg bisa persuasif, ini gue dapet dari dosen Ulani Yunus (salah satu dosen yg gue kagumi). Nyatanya masih susah juga hehe... Kalau melihat presentasi yg bikin "bergetar" gue melihat Arief Budiman ada disana, baru 3 kali sih ngeliat dia presentasi tapi huhuuuy yahuud! dia mampu bikin orang yg ga tau dia jadi penasaran pingin tau... bisa bikin kejutan-kejutan disaat performance, bisa naklukin suasana dan ga tenggelam sama audiance-nya... my hero lah.

Gue mungkin belum sebanyak mas Arief dan Ibu Ulani buat berbagi, mungkin belum ada sekelingkingnya kali. Sungguh tulisan ini hanya untuk mengingat..hehe
Materi presentasi "Lebih enak jadi laki-laki atau perempuan?" dari ibu Ulani buat gue, bagi gue menantang. Terus gebrakan presentasi an-konvensional di kelas pak Harry juga gue suka, semua pembicara pake topeng.

...

Hampir setiap tahun gue dapat kepercayaan buat "berbagi" di depan mahasiswa baru, tahun pertama di kampus gue berbagi tentang karya "Maskman" yg dapet silver di pinasthika tahun 2006. 2 tahun setelah itu dapat kesempatan berbagi di depan mahasiswa komunikasi interstudi , "Jer Besuki mawa beya" menjadi topik gw saat itu. di tahun yg sama gue juga berkesempatan berbagi kembali ke mahasiswa baru di MOS, topiknya "Provokatif Proaktif" ini gue ambil dari judul albumnya Panji, jauh sebelum orang-orang tau dia kayak sekarang... terakhir waktu MOS tahun ini "Yuk! Belajar jadi pelacur" menjadi topik gue.

Satu hal yg gue percaya saat ada di depan, gue lagi menyampaikan informasi ke orang yg hidup. Gue ga sependapat kalau buat menghilankan ke gerogian menganggap audiance itu batu..huuh!
mereka hiduup!

Tapi baru kemarin rasanya setelah presentasi (yg katanya seminar) gue dapet fee. Aneh! cuma itu yang ada di pikian gue, walaupun amplop itu gue terima tapi tetep berasa aneh (sampe lupa ngucapin makasih malah). Saking bingungnya... Dody pun berkata "wah mas taga sekarang kok jadi komersil???". Iya ya dod? sebetulnya gue dateng buat bebagi kan sebagai mahasiswa, sesama mahasiswa malah... kok ya malah dapet fee. Inikan bukan komersil, semata-mata atas nama kebersamaan. Kata siapa kebersamaan itu ga ada. Emang naif, ga menerima di bayar. Kalau dalam kondisi yang betul-betul seminar dengan di undang dari yayasan kek mungkin pantes... ah ga  juga sih. Gue inget betul Arief Budiman bilang gini "silahkan materi presetasi saya bisa di ambil nanti, karena sbenarnya ilmu itu gratis". Yups! dalam hal presentasi atau berbagi kayaknya gue belum sampai tahap itu; dibayar. Asli ini murni dari hati, panggilan yg emang gue suka.

"Dalam hidup ini ada 2 hal yg suka. Cinta dan Musik. Gue ga mau itu dibayar dengan apa pun, karena itu biar tetep mahal buat gue. Ga ada yg bisa ngebayar ke sukaan gue" Ijong pernah bersabda begitu ke gue dalam sebuah obrolan yg khusyuk di temani sama EsTea.

tapi nyatanya gue terima juga tuh walaupun rada ngeBlank! akhirnya hari itu gue bagi duitnya ke aloy dan reggy yg nemenin gue presentasi. Terus gue ajak mereka nonton dan main di amozone, ga lupa ngajak Upul gabung.. buat gue itu bukan milik gue sepenuhnya. Sekali lagi ini TULUS.

Ada hal lain yg gue kerjain dan patut untuk dibayar.

Senagnya kembali menjadi anak kecil, bisa lompat-lompatan....

Rabu, 15 Juli 2009

GTB

Tadi malam aku bermimpi, entah apa namanya...
sebut saja GULA TAMAN BERMAIN.

GULA TAMAN BERMAIN apa kabar? lama tak berjumpa.
Giliran di cari-in ga pernah nongol. Eh, pas ga di nanti datang begitu saja. Dasar ga tau diri!!
Secepat itu datang, tanpa sempat merasakan.