halaman

Rabu, 03 Juni 2015

Corat-Coret Membuka Jalan (Prosumers)

Tahun 2015 ini saya memulai usaha clothing line bersama Ibong. Clothing line yang di beri nama WEZ mengkhususkan membuat ilustrasi atlet Indonesia. Dimulai dengan olahraga sepakbola. Tulisan ini bukan berbagi tentang usaha gila yang baru saja mulai, sepertinya belum saatnya :)

Saya akan menulis soal bagian ilustrasinya saja.

...

Sebagai pendatang baru di industri clothing line dan bidang olahraga, sepakbola. Sudah barang tentu saya harus banyak belajar. Saya mesti tahu bagaimana kebisaan dan apa saja yang disukai oleh fans sepakbola Indonesia. Dan yang paling penting bisa masuk kedalam lingkaran sepakbola Indonesia. Modal awal saya gambar/ ilustrasi.


Saya buat ilustrasi Andik Vermansah dan Imanuel Wanggai dengan gaya ilustrasi minion. Kebutulan di Instagram Syamsir Alam melihat dan minta di buatkan. Saya tentu senang dapat respon langsung dari atlet seperti Alam, karena saya mengikuti perkembangan karirnya dari Alam di SAD (Uruguay). Setealah saya buatkan tanggapannya juga cukup melegakan, dia suka :) dan ilustrasi yang saya buat sempat (masih) di pakai sebagai profile picture social media Alam.


Buat saya itu sebagai pengakuan dari Syamsir Alam :). Imbasnya follower Instagram saya bertambah hahaha tanpa perlu beli follower. Tapi dari situ saya jadi bisa berkenalan dengan account fans base nya Alam di Palembang, bisa tahu bagaimana mereka memperlakukan idolanya. Dan Saya pun bertemu langsung dengan Alam untuk ngobrol-ngobrol soal sepakbola dengannya.


Setelah itu saya membuat ilustrasi pemain sepakbola yang lebih senior, Kurniawan Dwi Yulianto dan Zulkifli Syukur. Keduanya termasuk idola saya juga :). Bang Zulkifli minta di kirim ilustrasinya, akhirnya dikirim dan sepertinya juga dia suka (ngarep).

Beberapa kali sempat bertegur sapa di Instagram, padahal sebelumnya bang Zulkifli juga ga tau siapa saya :). Lain lagi dengan Kurniawan, saya di bantu teman bisa langsung bertemu dan kasih ilustrasi yang dibuat. Tidak lupa saya minta izin untuk diperkenankan memakai gambar muka Kurniawan di produk WEZ. 

Ketemu langsung idola masa kecil rasanya ya norak juga hahaha... Kurniawan salah satu pemain sepakbola yang saya ikutin beritanya dari zaman langganan tabloid GO zaman SD :)

....

Suatu pagi di message twitter ada yang menyapa dan ngajak ketemuan. Mata saya langsung melek, yang ngajakin ketemuan bang Ricardo Salampessy :) dia suka mantau ilustrasi yang saya buat di Instagram, dan dia mau kasih ilustrasi Imanuel Wanggai ke orangnya langsung.. wuaahhh ga pake lama sorenya saya janjian dan ngobrol-ngobrol soal fans di Irian sana. Sekali lagi saya ga kepikiran bisa di ajak ngobrol-ngobrol sama salah satu bek andalan Persipura Jayapura :)




Suatu ketika atlet muda Tristan Alif yang dapat kesempatan masuk Akademi Ajax Amsterdam account twitternya berkicau soal belum dapatnya izin tinggal di Belanda, yang membuatnya belum bisa berangkat ke Amsterdam. Saya buat gambar tentang itu.Alhamdulillah ada account "siluman" yang nyari-nyari sela buat ribut di sosmed hahaha.. tapi keuntungannya saya jadi bisa kenal dengan ibu dari Alif lewat gambar dan sosmed :). Malah suatu hari saya bisa ketemu langsung dengan Abi Ipang dan Alifnya langsung, kita sempat ngobrol soal sepakbola sampai karirnya Alif di akademi Ajax.

"Gambar yang kamu buat, itu mewakili apa yang keluarga Kami rasakan. Itu bisa menjelaskan arti yang luas..." begitu Abinya Alif berujar pada saya :)


....

Buat saya corat-coret ini tidak lagi sekedar gambar, tapi ini membuka jalan buat saya bisa bertemu atau tegur sapa dengan atlet-atlet tersebut. Seperti yang sering orang utarakan Karya kadang memang tidak bisa dibeli dengan apa pun :) Terkadang pengakuan dan silaturahmi yang terbangun lebih bernilai dari angka-angka :)

Saya sadar gambar saya juga ga keren-keren amet. Tapi saya semakin percaya bahwa gambar punya cara "Berbicara" tersendiri. Bahkan punya Jodohnya sendiri :)


"Idealisme itu penting. Terus punya idealisme. Idealisme dijual juga ga apa-apa, tapi jangan semuanya. Karena melihat pasar juga penting. Tapi sekali lagi jangan semua idealismenya di jual..." - Mas Ipang (Ayah Tristan Alif)

Senin, 06 Januari 2014

Penampung Air Hujan

Cicak merayap perlahan di dinding. Baju-baju bau kotoran semalam masih melekat di jemuran, apek memang karena pengharum pakaian pun tidak mampu menutupinya. Awan berayun dari barat ke timur,  di pandang tidak lagi pelan seperti hari-hari sebelumnya.

Pagi itu, tampak bingung saya memandang rentetan pesan di HP butut kesayangan. Sepertinya dari semalam banyak sekali pesan silih berganti masuk. Satu persatu coba di baca, perlahan-lahan. Bukan karena teliti tapi memang nalar saya tidak mampu menelaahnya.

"Aku benci Kamu! mulai hari ini sampai salah satu dari kita MATI!!!"

Saya terhenti di pesan itu, nomernya tidak di kenal. Pikiran saya merayap mencoba mengingat nomer itu, persis seperti Cicak di dinding, hanya merayap dalam lamunan. Sekuat mengingat, sekuat itu pula saya kebingungan.

"Kaka..." Saya balas pesan itu singkat.

5 menit berlalu tanpa ada balasan. Sampai saya berpikir itu hanya SMS salah kirim atau tak lebih dari SMS peminta pulsa. Saya beranjak dari kursi, berayun menuju kamar mandi. Ritual buang hajat menjadi pembuka, sambil melamun cerita-cerita pendek dalam khayalan. Tiba-tiba ada suara SMS masuk. Rasanya ingin bergegas dari kloset, tapi lagi nanggung. Bukan karena khayalan-khalayan tapi memang pas mules-mulesnya.

Saya urungkan untuk tidak mandi, setelah buang hajat segera saya ambil HP di kasur. Nomer itu membalas seperti dugaan saya.

"BANGSAT!!!!!!!!!" tertera di layar HP saya, dengan tanda seru yang berentet. Langsung saya hubungi nomer asing itu. Nada sambung terdengar namun tidak ada yang menjawab di ujung sana.

Penasaran saya mulai berubah jadi kesel, pikir saya pendek saja. Ini orang nyari ribut pagi-pagi. Tapi ga berani ngadepin langsung di telepon. "Ini siapa? maap ya gw ga simpen nomernya... ga penting juga nyimpen nomer beginian. Langsung aja, ga peduli di situ siapa? Lu mau apa?!! di telepon kok ga berani angkat?"

....

Sampai malam saya tunggu balasan pesan singkat itu; tidak ada jawaban. Padahal dari siang coba saya hubungi nomer asing itu, tetap tidak di angkat. Saya masih penasaran, semoga ada jawaban di malam ini, karena pesan pertama yang masuk juga di kirim kemarin malam.

Ternyata sampai paginya tidak ada balasan.

....

3 bulan setelah pernyataan BENCI di pesan singkat itu saya mulai merelakan siapa orang yang mengirimnya. Walau pun nomer itu akhirnya disimpan dengan nama "CUMA SUKA SMS".

"Aku tetap benci Kamu! sampai salah satu dari kita MATI!!!"

Ada pesan singkat masuk dengan nomer asing kembali. Saya langsung coba hubungi, saya tekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau. Tidak ada nada sambung apa pun. Tiba-tiba rasa kesal 3 bulan yang lalu kembali datang. Saya coba berulang kali menghubungi dan hasilnya sama... Tanpa nada sambung, sepi.

Akhirnya saya balas pesan itu lewat SMS "KAMU SUDAH MATI LEBIH DULU DARI SAYA, JADI GA PERLU BENCI SAYA LAGI. TUGAS KAMU SUDAH

SELESAI..."



Rabu, 11 September 2013

Piki burket seleb sekelebat!!


Butuh hiburan, sampai admin pelesetan pun di santap dengan lahap :)
Siape tau si "Mawar" (bukan nama sebenernya) yang lagi berkicau-kicau

Minggu, 25 November 2012

Tidak tahu

Cukup lama tidak menari-nari lewat kata-kata di blog. sedang hibernasi. Semakin tahu justru semakin tidak tahu. Semakin banyak mendengar justru semakin tidak bisa mendengar.

Semakin bisa melihat dunia, justru semakin tidak bisa melihat dunia itu sendiri.

Sebetulnya saya punya pengalaman tidak mengenakan saat menulis pemikiran saya di blog, karena tidak semua orang yang baca berkenan dan bisa menerima secara terbuka. Mungkin di situ letak kekuatan kata-kata. Belajar dari situ saya beranggapan bahwa apa pun kata-kata yang tertulis pasti akan ada keberpihakannya; tidak melulu memenangkan buat salah satu pihak.

Kita di kasih kelebihan punya akal dan dengan sendirinya kita punya asumsi. Buat saya ketika orang tidak lagi berasumsi maka ia MATI. Secara jasad mungkin ada.
Nah, yang kadang bikin kebelinger, kita memupuk asumsi kita berlebihan, kita mempercayai asumsi kita kelewat dari diri kita sendiri. Bahkan kita terbentuk dengan asumsi-asumsi dari seseorang yang diamini komuninya.

Siapa yang mencari kebenaran, siapa pula yang merasa paling di benarkan. Akhirnya semua begitu abu-abu. Kenapa kita sibuk mencari kebenaran?
Apa dengan begitu kita akan memenangkan sesuatu? apa yang kita menangkan?

Asumsi kita sangat berpengaruh dari apa yang kita geluti sehari-hari, dari kecil sampai sekarang. Dari apa yang kita lihat, dari apa yang kita kunyah sampai dari apa yang kita kultuskan.

Sampai dimana pun manusia akan bisa berasumsi. Manusia akan punya pemikiran. Karena Allah SWT memberikan kita akal. Lalu saat kita terlalu asik dengan asumsi kita, apa yang terjadi? kita menutup hati kita. Kita melihat segala sesuatu dari apa yang kita yakini saja, dari apa yang kita anggap itu benar di keyakinan kita. Kurang jelaskah bahwa kita tidak bisa menjadi betul-betul benar?

sumber: http://www.mmorpg.com/photo/337eb728-fd65-489c-941b-0cfcb3152e8b


Agama bagi saya adalah petunjuk untuk menjani hidup dan kehidupan setelahnya. Pikiran awam saya selalu gelisah, kenapa agama bisa jadi alasan pemaksaan bahkan pertumpahan darah.

Apakah agama yang kita anut lebih kita yakini dari asumsi kita saat ini?

Saya selalu merasa mencari Allah; padahal saya tahu Allah ada di sekitar kita. Bahkan dekat sekali. Lalu buat apa saya mencari?

Saya berusaha tetap didekati Allah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena saya menyakiniNya.

Terlalu sentimentil memang membahas keyakinan. Kata orang Indonesia, terlalu sensitif. Kenapa?
Karena keyakinan itu ada di dalam, murasuk dan meyatu dengan ruh.

Lalu mengapa kita ribut dengan kayakinan orang lain saat kita sudah meyakini keyakinan kita. Dunia tak akan berubah saat keyakinan kita di ikuti orang lain. Keyakinan itu ada di dalam. Bukan di mulut, bukan di tingkah laku. Apa yang kita lihat kadang bukan yang sebenar-benarnya.

Biarlah jasad dan ruh kita meyakini apa yang di yakininya. Agama terlalu rendah bila di jadikan alasan untuk saling mencerca, saling menitipkan kebencian bahkan saling membenarkan diri kita.

Karena sebenar-benarnya manusia dia tidak mungkin benar seutuhnya. Kita ini kecil.
Kecil banget.


Wallahualam.
Maha benar Allah dengan segala firmanNya.



Rabu, 22 Agustus 2012

MAJU ITU MELANGKAH KE DEPAN

Seperti pada umumnya *pembelaan


Seperti bapak baru pada umumnya, setiap hari disuguhkan aneka kejutan. 2 putri selalu punya cara untuk menyampaikan perkembangannya.

Seperti bapak baru pada umumnya, setiap saat selalu penasaran dengan tingkah laku putrinya. Walau pun tidak setiap saat ada di samping mereka.

Seperti bapak baru pada umumnya, begitu riang memperlihatkan ekspresi wajah putrinya lewat foto-foto yang di abadikan.

Selalu sama, sampai akhir hayat.

Selasa, 05 Juni 2012

Belum sempat berbagi dengan blog. Belum sempat, hanya ini saja dulu.

"Teringat tangisannya ketika lahir. Ia menangis menghadapi dunia. Dan ketika kaki mungilnya telah sanggup berjalan, ia menangis meminta mainan. Lalu ia kembali menangis ketika dewasa. Tapi sebuah tangisan kekuatan. Kekuatan untuk sanggup membuatnya bertahan hidup. Hingga akhirnya nanti ia akan menangis bahagia. Bersama orang yang tepat mendampinginya. – Alang"
(MENULISLAH, JANGAN BUNUH DIRI! - Dyan Nuranindya)

Untuk kedua putriku, Mikania & Mikenna Tunggadewi.

Minggu, 20 Mei 2012

Tikus vs Naga

"Kerja dimana loe?" pertanyaan itu mengalir dari kawan gue yang saat itu lagi gue jenguk karena baru saja punya anak.
"Masih di kemang, barengan sama athpal." Jawab gue saat itu.
"Oh gitu. Masih belum mau kerja sama orang  loe?"
Gue pun senyum kecil. Pertanda bingung sekaligus mecoba menelaah pernyatan itu.

....

Kejadian itu kurang lebih 2,5 tahun yang lalu. Sampai sekarang masih terus menelaah sekaligus (langsung) praktek :p.
Barengan temen-temen, gue bikin usaha. Bidang usaha yang gue jalanin di bidang audio visual, bikin video untuk perusahaan, video klip sampai multimedia buat event. Usaha ini di mulai dari kamar salah seorang temen, kemudian berlanjut di paviliun berukuran 3x5m di daerah kemang. Dengan modal ratusan ribu per-orang dan 1 set PC investasi usaha ini mencari celah dari setiap kesempatan yang datang.

Berjalankah?
Yup. dengan segala kendala dan keunikannya usaha bernama MUTUMATA ini masih tetap berjalan sampai gue post blog ini. Dari persoalan internal sampai kendala dari luar silih berganti datang. Walau pun tidak mulus-mulus banget dalam perjalanannya alhamdulillah ada aja jalan keluarnya.

Setelah (kurang lebih) 4 tahun berjalan. Kini sudah menyewa 1 rumah sebagai "kantor"nya. Alatnya juga sudah beranak, 2 iMac dan perangkat tambahan untuk mendukung video editing. punya 2 karyawan yang di gaji regular setiap bulannya.

....

Apa yang gue kerjain?.
Hampir semua lini, itu juga berlaku untuk temen-temen gue yang lain. Dari mulai nyari client, bikin penawaran harganya, ngerjain projectnya, presentasi-in, ngatur pengeluarannya, ngatur kebutuhan rumah tangga kantor, kebutuhan karyawan sampai maintenance client.

"Oh gitu. Masih belum mau kerja sama orang  loe?" Jadi inget pernyataan itu.

Sebetulnya sama aja. mau kerja di perusahaan sebagai karyawan atau bikin usaha sendiri. Keduanya punya plus minus. Kerja di perusahaan/ instansi nilai pekerjaannya sudah "jelas" perbulan dapat gaji pokok berapa, job desk nya apa perhari sampai perbulannya, hampir bisa di pastikan semuanya jelas perbulannya. Tingkatan jabatannya menentukan kemakmuran. Mungkin "pengalaman batin"nya ga sekaya usaha sendiri, ngerjain cari client sampai mengatur pengeluaran untuk kebutuhan "dapur" kantor??
Ya itu tadi keduanya ada plus minusnya.



Begini, sekeras apa pun bekerja di perusahaan/ instansi tetap saja menjadi BUNTUT NAGA. Sekuat apapun tetap saja menjadi buntut. Mengikuti sistem dan kebijakan.

Kata-kata terlontar dari pedagang buah dibilangan Pondok Kelapa. "Biar begini usaha saya, saya sekuat tenaga lebih memilih ini. Sekarang saya mau perluas toko buah saya. Itu bengkel juga punya saya" sambil menunjuk kearah depan. Gaya menjual buahnya buat gue dan istri sangat edukatif, pernah kita tanya "kira-kira buat yang sakit typhus buah apa yang cocok ya Pak?". Dengan hatamnya si bapak menjelaskan kandungan dari buah-buahannya. Ramah sekaligus memeberikan pengetahuan.

Ramah dan mengedukasi pasti ada di perusahaan manapun. Bedanya hal kaya begitu bisa terlihat biasa saja di perusahaan, tapi ketika membuat usaha sendiri, nilainya jadi LEBIH. Service excellence kalau kata perusahaan-perusahaan, buat pedagang mungkin tidak familiar dengan istilah itu, kenyataannya mereka juga memperaktekan. Mungkin lebih memahaminya.


...

Gue memilih sebagai KEPALA TIKUS saja tidak jadi NAGA. Lebih baik menjadi kepala dari pada selamanya menjadi buntut. dan itu sudah dimulai dari umur yang ranum.

"Lebih baik menjadi kepala Tikus dari pada seterusnya jadi buntut Naga"




Sabtu, 21 April 2012

Satu pesan untukmu, Nak.


Melangkah Nak,
Jangan ragu. Karena tidak ada keragu-raguan.

Kadang yang terlihat tidak selamanya benar-benar ada.

Jangan salah melangkah. Jangan mudah dipencundangi dunia.

Selalu hati-hati. Karena Kau akan selalu awas kapan pun.
Bawalah radar keimananmu, sehingga mudah mendeteksi mana perangkap
dan yang mana emas.

Kalau pun terjerat. Ingatlah satu langkah pertama ketika memulai ini.

Sabtu, 14 April 2012

Sepeda Motor (ga mau kalah)

Mengeluh soal macet ga akan ada guna di Jakarta. Dari ujung ke ujung semuanya pasti ada titik itu. Selebar apa pun jalan tetep pasti lama-kelamaan akan padat. Jumlah kendaraan semakin sumpek.

Berhenti lah mengeluh! Jalanan punya banyak cerita. Punya setumpuk ide yang terselip disana.

....

Pengendara sepeda motor nyemut setiap hari. Tengoklah setiap lampu hijau di pacu, persis kaya balapan motor. Sepeda motor bisa nyalip-nyalip, bisa melaju di tengah kemacetan. Satu lagi sepeda motor bisa bikin orang merasa sama-sama satu keyakinan lewat komunitas-komunitasnya.

Stop sampai mendeskripsikan sepeda motor! semua pasti udah bega sama itu. Tengok sebentar hal lain...

Kebiasan yang sering gue temuin pengendara motor kaya DIKEJAR SESUATU apa lagi NGEJAR SESUATU (teteh Sharini pasti demen nih seuatunya gue sebut berulang-ulang).  Kenapa ya? Kalo merasa dikejar, dikejar apa? siapa?
waktu kah?
Deadline kah?
Keluarga kah?
Pacar kah?
Kerjaan kah?
atau Tuhan kah?
Yang jadi pertanyaan gue, "kenapa mesti ngerasa ladi dikejar-kejar?". Apa ada yang buntutin si pengedara, jadi si pengendara berasa takut ketangkep. *garuk-garuk kepala

Atau kalau lagi ngejar sesuatu, apa juga yang dikejar. *garuk-garuk kepala lagi (kali ini karena ketombean)

Kalau memang jiwa pengedara motor kita serba cepat, tukang salip tukang ngebut. Kenapa sampai sekarang kagak ada yang masuk motor GP. Sekalian dong, kalo jago ngebut!!

Berbahagialah gue kalau ternyata mindset pengendara motor di ibukota tukang salip dan ga mau KALAH. Kenapa bahagia... ya paling ga masih ada keinginan untuk maju hehe. Kenapa sih jiwa tukang salip dan ga mau kalah itu ga di tempati buat hal-hal lain... Bangsa ini udah parah sob. apa yang bisa kita majuin ke orang-orang di luar sana kalau kita "Bangsa yang besar".. slogan itu cuma ada di buku PPKN.

Kenapa ga sekalian salip tuh negara-negara asia tenggara. Salip juga jepang... atau sekalian Salip Cina. Malah kenapa ga di pake buat nyalip kehebatan teknologi, pengetahuan, sumber daya manusia di negara-negara maju... lagi-lagi kita cuma berani nyalip metromini.

Izinkan diriku juga berkaca. Kalau memang kita bisa serba pingin cepat dari yang lain (faktanya di jalanan pengendara seperti itu) Kenapa kita terlalu lambat bergerak maju dalam segala aspek..
Kenapa kita terkenal manusia-manusia lambat dan ngaret.
KENAPA kita semua rela bangsa lain nyalip kita dengan segala kemajuannya.
Apa kita cuma figuran? kalau memang figuran sekalian aja deh kita jadi figuran yang paling total.

(Satelit Palapa, zaman ini sudah berakhir!! kemana jiwa para penemu itu)


Kenapa jiwa cepat, ngebut, tukang salip ini ga di aplikasiin di segala bidang.
Cari cara energi ini bisa tepat guna. Bisa jadi energi positif atau ga usah muluk-muluk deh... paling ga kita bisa NYALIP KEBIASAAN  KALAU KITA INI TIDAK BOLEH PINTAR. CUKUP TAHU. SAMPAI TAHU SAJA. Kenapa kita ga mau nyalip kebiasaan ini.

Seharusnya kita bisa bergerak, bahkan melajuuu. Karena jiwa pengendara motor ini ada di setiap lapisan masyarakat kita.

GA MAU KALAH!

Jumat, 16 Desember 2011

Samudera tetap legawa, tetap asin.





"Baca, baca dulu" 


Teks diatas sangat melekat dalam beberapa hari ini. Saya paksa diri ini untuk kembali membaca. Memang kala ga terlalu padat sama pekerjaan waktu lebih leluasa, lebih longgar dan bisa ngelakuin hal-hal lain. Emang males banget bawaannya kalau mau baca, tapi begitu dapet bacaan yang "merangsang" akhirnya sulit berhenti.


Dan beberapa bacaan yang mampu merangsang itu gue simpan di posting ini,


Sering banget udah merasa cukup. Terlalu sering merasa paling bener dari orang lain.
Sering banget...
Keadaan kah yang buat jadi pribadi begitu? (senyum kecil) jangan cuma bisa nyalahin.


----


"Samudera itu menerima apa pun. Badai. Hujan. Lahar Merapi dan sampah-sampah rumah tangga yang mengalir lewat sungai-sungai. Juga ludah orang yang berenang di pantai. Samudera tetap legawa, tetap asin."
(aa kunto a)


Tentram rasanya.


Baca dulu ya....

Senin, 12 Desember 2011

Sebatang rokok dan air putih di waktu pagi

Bukan rahasia bila imajinasi
lebih berarti dari sekedar ilmu pasti
bukan rahasia bila aku adalah seorang pemimpi
dan aku bukan lah satu satunya di dunia ini



(Dewa 19 - Bukan Rahasia)


Blog? media satu arah, walau kadang bisa menjadi dua arah. Gue suka menghayal bahwa dengan rangkaian tulisan bisa mereflesikan apa yang di pikirkan oleh penulisnya, membuat orang terpengaruh, lalu beranjak.
Blog di gunakan untuk menuliskan apa yang di pikirkan, sangat subyektif. Kadang kontrofersial!


Blog itu konvensional bagi gue, menulis. Merangkai kata-kata, menempatkan point di setiap paragraf. Berharap menjadi cerita yang mengalir, selayaknya tulisan dari pengarang-pengarang buku terkenal. Lebih personal. Tanpa bermaksud membandingkan dengan status pada jejaringan sosial lain tentunya, blog kadang bisa lebih "intim".


Sayang beberapa bloger yang dulu rajin memposting tulisannya sekarang seperti tidak lagi menggubris, tidak lagi membagikan cerita-ceritanya di blog. Era ini sudah habis, hanya segelintir yang masih aktif. Tapi tetap saja ada. Gue termasuk yang bisa terpengaruh sama tulisan-tulisan di blog. Gue bisa merasa "Ih, gue banget sih?!" pas baca postingan bloger. Kadang juga bisa ngerasa malu, "Kok bisa ya orang itu kepikiran kaya gituu...". Sebenernya bukan sesuatu yang istimewa, karena apapun bacaan bisa bikin kita kaya gituu...


Kembali lagi soal gue selalu berhkayal blog ini bisa jadi refleksi sekaligus media berbagi. Kenyataannya, setelah semua dilewati, ga perlu tuh berekspetasi kaya gitu...jadi ga terlalu penting. 


Sampai pada akhirnya, biarin aja blog ini ada, ga perlu juga orang baca atau tergugah. Itu hak setiap individu.
Kalau pun ada yang baca, semua bisa punya tanggapan berbeda. Terus kalo ga ada yang baca?
Ya ga apa-apa juga, kan gue bisa baca-baca lagi hehe..


-------------


Kebayang deh kalo internet 25 tahun lagi masih ada, Bloger masih ada. Blogspot gue masih ada di dunia maya. Mungkin ini jadi wisata nostalgia, tulisan gue saat ini. 
Mungkin kalau gue baca tulisan gw 4 tahun yang lalu,  bisa bikin nyegir-nyegir sendiri, atau malah gue katain cupu hehe...


Kebayang deh kalo ternyata ini jadi warisan; buat anak gue kelak. Ga perlu denger cerita, cukup baca saja ini Nak...




"Untuk tahun 2037"

Minggu, 30 Oktober 2011

A word can hold the secret of the universe

Ajang kreatif selalu mengantarkan hasrat. Pembelajaran singkat kadang tersirat.

...

Setiap orang pasti pingin ikut ajang kreatif, tapi terbukti ga semua orang berhasil melakukannya. Semua melihat ajang kreatif pasti beragam. Bisa sebagai ajang pembuktian, bisa juga sebagai latihan... mungkin ada yang melihat cuma buang waktu.
Segala kendala teknis sampai ga punya temen buat bantuin bisa bikin langkah ikut ajang kreatif terhenti. Belum lagi masalah ga punya duit buat daftar...
Setumpuk tugas kuliah bisa mengikis keinginan untuk daftar dan mengirimkan "gagasan kreatif" kita.. segala rutinitas keanak mudaan juga dengan mudah mengalahkan keinginan kita untuk ikut ajang kreatif; lumrah... 
dan itulah realitanya. 

Tapi paling tidak memupuk jiwa berkompetisi sesekali perlu. Bagaimana tahu rasanya menang kalau belum pernah melihat orang lain menang dan mengangkat piala dengan gagahnya di panggung.
:)

...

Paling sulit adalah memulai. Tapi lebih sulit lagi kalo ga pernah memulai hehe...
Membangunkan "macan" mungkin perlu cara tersendiri. Ternyata kata-kata hanya berlaku sekian persen untuk membuat "macan" bangun, ada cara lain yang lebih efektif dan mengena... mungkin tidak sekedar bangun, tapi mampu mengaum.


Perlahan, sekumpulan penggiat kreatif ini menunjukkan hasilnya. Berkompetisi.
Menaklukkan brief dari penyelenggara hingga menaklukkan segala kendala yang ada. Dengan kemudahan fasilitas di zaman digital seperti sekarang tentunya ga sulit untuk membuat video.


Rasanya itu semua belum cukup untuk membuat "melek" para penyelenggara dan petinggi yayasan. 
Dalam setiap penyelenggaraan Road Show Pinasthika, jalur InterStudi selalu terlewat... tidak ada promo yang mampir. padahal ITKP cukup sering menjadi persinggahan panitia.

Setiap para penggiat kreatif ini berhasil membawa "piala kreatifnya" pihak petinggi yayasan seperti kurang "perhatian"... padahal pas ikut ajang kreatif pakai nama almamater...paling tidak petinggi yayasan mampu memberikan semangat bahkan apresisasi lewat beasiswa.

Begitulah...
Tapi inilah menariknya, tanpa iming-iming hadiah,
tanpa iming-iming beasiswa
tanpa iming-iming apa pun
para penggiat kreatif ini tetap mengirimkan "gagasan kreatif" mereka. 


Ini bisa jadi pekerjaan rumah, bisa juga ga sih... karena anak muda memang butuh tantangan.
Perubahan itu bisa dirasakan.


"Gagasan ide" yang ada di sini mampu menghadirkan semangat, sekaligus pembelajaran. GOKill !!

Izinkan disuasana yang penuh kemeloan ini saya mengutip lirik, sehingga kebahagian ini bisa di rasakan.

We’re taking the long path 
Our steps are moving together 
Sunset is calling… 
sunset is calling again 

Oooh, the story is out of line 
we should pick it up again 
something has been made out 
the brightening day shall arrived 

A word can hold the secret of the universe 
and silence is the hardest thing for us to unveil 

together we’ll reach happiness 
part the ocean and through the sky 
but silence is the hardest thing for us to unveil 

pure saturday - spoken

Senin, 29 Agustus 2011

Rumah di Wonogiri

Sempat berkunjung kerumah tua, terbuat dari kayu jati sepertinya. Tanpa plafon, hanya genting menganga. Dua buah ruangan besar terpisah. Satu untuk dapur dan makan, satunya lagi kamar dan ruang keluarga. Ada cahaya menerabas keras dari sela-sela genting. Udaranya memang menyengat.

Tapi di dalam terasa sejuk karena atapnya cukup tinggi. Coba injak lantainya...
Ubin abu-abu khas bangunan lama; adem.
Senyum ramah pemilik rumah yang sudah sepuh tak kalah menambah suasana hangat di dalamnya.

Wonogiri-2011

Rabu, 22 Juni 2011

Kuyu

Pagi itu gue masih terjaga, waktu dimana kebanyakan orang sedang terlelap. 3:43 AM waktu menunjukkan di monitor komputer. Ada beberapa hal yang harus di selesaikan pagi itu. Saat seperti itu gue lebih suka tidak mendengarkan musik dari iTunes, dengan begitu gue punya kesempatan bertegur sapa dengan sosok di dalam diri gue.

Ritual kecil yang menjadi rutinitas.

Pagi itu sosok itu tidak akrab, sulit sekali. Namun ketika jam monitor menunjukkan waktu 4:00 AM gue di temani laki-laki bermata kuyu di samping. Matanya seperti berbicara tentang harapan. Gue nengok sedikit ke sosok itu lalu gue kembali bekerja karena sedang membunuh waktu.
Tidak terasa mata gue mulai "kereyep-kereyep", gue ambil sebatang rokok dari bungkus merah di depan mata. "Api....?" suara itu tiba-tiba memecah, pelan namun tiba-tiba.

Lelaki bermata kuyu itu menawarkan api. Lalu berbicara lebih pelan dari sebelumnya "tak usah terlalu melawan diri sendiri...". Setelah gue menghisap rokok rasanya ingin menghentikan sejenak pergerakan mouse di tangan kanan, lalu menjawab pernyataan lelaki itu.

Gue pun terus mengerjakan potongan-potongan gambar dan tak berminat menjawabnya. "masih ingat dulu, kamu begitu mudah bercerita soal hidup padaku...". Pendirian gue tak sekuat itu ternyata, mungkin karena memburu waktu pekerjaan yang harus rampung jadi moodnya tidak setabil. "masa?" gue pun menjawab singkat.
"Air muka kamu banyak berubah sekarang. itu menurut aku"
Gue tatap muka laki-laki itu, rada bingung sih. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke bungkusan rokok di depan gue.

"...Maksudnya apa?" gue rada terbata-bata. Laki-laki itu tersenyum kecil tapi pandangannya tetap ke arah bungkusan rokok.
"Kalo mau rokok ambil aja kali..." gue coba mengambil alih suasana.
"Terimakasih." sahut laki-laki itu.

Gue putuskan untuk kembali mengambil mouse dan meneruskan pekerjaan. Hanya suara klik...klik...klik... dan hisapan rokok dari mulut gue yang sekarang terdengar. Tapi kenapa gue jadi ga fokus dan penasaran buat ngomong lagi sama laki-laki itu. Gue tahan keinginan itu, gue lawan sekuatnya.

"Tak usah terlalu melawan diri sendiri..." suara itu kembali memecah, tapi lelaki itu sekarang tidak duduk di samping gue. kayaknya ada di belakang gue. Gue menoleh pelan kebelakang, lelaki dengan mata kuyu itu menatap gue sekarang. Cukup lama saling bertatapan, tanpa kata-kata. Jari gue sampai berasa panas karena rokok yang di pegang mulai habis.

"Kamu lihat diri kamu. Sama seperti aku. Mata kita sama, muka kita sama, badan kita juga sama...".
Gue masih menatapnya dalam, "...hanya air muka kita yang tak sama sekarang."
Gue nahan panas rokok di jari yang semakin menaik, mulut gue susah bergerak. Suara gue ketahan di leher, gue coba menelan sisa-sisa ludah di tenggorokan. Karena lelaki bermata kuyu itu ternyata punya perangai yang sama kaya gue.

Hanya lebih muda saja.


(masa lalu yang males bernostalgia...)











Minggu, 08 Mei 2011

Cukup untuk memecah keheningan

Suamiku.......
Aku ingin akulah yang pertama menemukan uban di antara helai-helai rambutmu dan menggaruknya ketika engkau mengeluh kulit kepalamu tiba-tiba menjadi lebih gatal dari biasanya. Dan ketika helai-helai itu semakin bertambah dengan suka cita aku akan menyisirinya, tak perlu meminta pewarna rambut. Suamiku, rambut kelabumu kan tampak seksi di mataku.

Tak perlu khawatir.......
Aku siap mencarikan kacamatamu ketika kamu lupa tempat menaruhnya. Atau akan kubuatkan sebuah kotak segala ada, tempat engkau dapat menaruh semua barang dan perkakasmu sesukanya. Ketika malam-malam dingin dan rasa ingin pipis tak tertahan lagi, jangan ragu untuk membangunkanku. Suamiku..... ini tanganku di sampingmu jangan ragu jadikan tanganku sebagai peganganmu.

Suamiku.......
Aku tidak menginginkan yang muluk-muluk. Aku ingin mendampingi masa tuamu, aku ingin tua di sampingmu, bersamamu.

Sehatlah selalu suamiku sayang.......
Agar engkau juga sempat meraba kepalaku yang ditumbuhi uban, agar sempat aku memamerkan gigiku yang mulai tanggal.

Sehat, sehatlah suamiku.......
Agar ketika kita tua, kita masih sanggup menemani anak cucu kita bermain bersama. Atau sekedar mengunjungi mereka saat hari libur tiba. Kupikir lebih baik kita saja yang mengunjungi mereka sambil membawakan makanan kesukaan mereka. Mungkin nanti anak cucu kita akan lebih sibuk dari hari-hari sibuk yang kita jalani sekarang. Kita akan jadi orang tua yang paling pengertian ya kan, sayang.....

Suamiku.......
Aku ingin tetap mesra bersamamu, hingga tua. Tetap membisikkan kata cinta, meski pendengaran kita semakin berkurang. Jangan malu untuk sedikit berteriak di telingaku ya...?! Kau tahu, aku sangat suka mendengarkan ungkapan sayangmu.

Ku ingin kita.......
Tetap saling memanja, semampu tenaga yang masih kita miliki. Anak, cucu, ponakan dan keluarga kita pasti akan menyangi kita berdua, tapi percayalah aku yang paling tau cara memanjakanmu demikian engkau yang paling tau cara memantik binar di mataku.

Bila waktu memang menggerus banyak hal.....
Bila usia memang mengikis banyak hal.....
Aku berharap, semoga itu bukan cinta dan kasih sayang kita.

Bila memang tiada yang abadi.....
Bila memang semua akan berakhir.....Bila memang semua akan terhenti.....
Aku berharap, sepanjang waktu yang kita miliki, temani aku untuk melakukan yang terbaik untuk cinta yang kita punya. Menjadikan cinta dan hubungan yang kita bina sebagai anugerah paling indah dan paling berharga.

Apapun boleh berhenti, tapi tidak dengan niatan tulus untuk saling mengasihi.

Apapun boleh usai, tapi tidak dengan upaya gigih untuk saling mejaga, upaya gigih untuk saling membahagiakan.

Suamiku.......
Hari ini, menit ini, detik ini, aku seperti bisa menatap proyektor besar tak bertepi, memutar film tak berjudul yang kita perankan, ada dua tangan keriput yang saling menggenggam. Tanganku dan tanganmu.

Tapi ketika adegan berganti, saat film hampir usai, aku tak sanggup lagi menatapnya, semua menjadi kabur dan basah oleh Air Mata.
__________________________________________________

*-Ku ingin mencintai mu sepenuh hatiku, tapi tak bisa
*-Ku ingin bersama mu selamanya, tapi takkan mungkin
*-Ku ingin sehidup semati dengan mu, tapi semua itu gombal belaka
*-Karena ku ingin hanya Allah dihati ku
*-Yang Takkan Meninggalkan ku, Takkan Berpisah dan selama-lamanya krn semua itu bukan gombal
*-Kalau pun aku mencintai mu, itu karena Allah
*-Karena Dia-lah yang menggerakkan hati ku untuk menyayangi mu
*-I love you..... because "Uhibbuka fillah"



*terinspirasi dari sesuatu, maaf keadaannya saat ini ga bisa ksh kado berlebih, hanya ungkapan hati & harapan terbaik untuk suamiku tersayang.....Selamat Hari Lahir Suamiku....



(message di inbox dari Istriku, Tatik Leviana. Di hari lahir yang ke 27)

Minggu, 24 April 2011

Rutinitas tak melintas sesaat

Pernah sejenak sebelum terlelap di malam hari menyempatkan mengulang kembali potongan-potongan kejadian di hari yang baru saja di lewati?
Dari mulai bangun tidur hingga waktu kita sedang me-review kembali... sepele?
Emang.
Tapi segala rutinitas akan melintas begitu saja saat semuanya tidak diberi nilai, hingga akhirnya semua terasa terlalui tanpa kesan apa-apa.

Hidup itu rutinitas. Bagi gue.

Pernikahan pun seperti itu. Bertambah usia kita akan semakin "besar"... dari sendirian lahir di dunia hingga akhirnya punya banyak orang-oarang di samping kita. Satu menjadi banyak. Rutinitas yang tidak bisa di hindari. Pernikahan adalah salah satunya. Satu dari sekian banyak fase di hidup ini yang mesti terlalui, sama seperti sarapan pagi atau bekerja. Apa bedanya?



Pernikahan adalah ibadah. Sarapan dan bekerja juga ibadah (kalau kita meniatkannya begitu). Lalu kenapa pernikahan menjadi hal yang mengerikan bagi sebagian orang, bahkan gue pun pernah merasakannnya. Kadang memikirkan pernikahan saja belum mau walau pun tahu itu semua pasti hadir nantinya. Sama seperti ibadah (mungkin) semua itu akan datang lewat hal-hal yang kita yakini, terkadang begitu saja datang tanpa kita tahu alasan pastinya. Begitulah kuasa langit.

"Buat apa panik kalau mau ibadah" kata-kata ini begitu menohok buat gue. "Pernah ke mesjid pas sholat Jum'at elu ngerasain panik??". Gue pun tersenyum waktu di kasih tahu kaya gitu.
"Sama aja bukan... sholat Jum'at ibadah, begitu pun nikah.... yang penting esensinya". Seketika saat itu gue merasa lebih kuat, karena saat itu memang dalam masa panik saat menjelang pernikahan.

Rasanya rutinitas yang dilewati dengan berat pasti bakal berasa berat. Jadi....
waktunya mengembalikan semuanya ke "kosong" (Nol). Lihat lebih dalam akan makna dari ibadah itu sendiri... percaya bahwa pernikahan adalah ibadah.... seperti rutinitas yang hadir dalam hidup kita

Hidup untuk ibadah, melintas sesaat namun tetap punya nilai.

Jumat, 11 Maret 2011

we are ! (Jualaaaaaannnn)



Apaan nih??? (mungkin itu yang terfikirkan saat ini)


Komunikasi yang cukup efektif pada band/ penyayi dalam menyampaikan pesannya kepada pasar melalui media video musik.  Dalam perkembangannya video musik menjadi media yang melengkapi image/ citra penyanyinya.
Video musik tidak melulu menampilkan band/ penyanyi bahkan menjadi media penuh estetika dan nilai seni.
MUTUMATA sebuah tim production yang bergerak dalam audio visual mampu mensinergikan antara kebutuhan “jualan” dan idealisme penyanyi/ band.

Berikut sutradara yang kami miliki.

Athpal Sofie Paturusi
Sebagai sutradara film pendek, karyanya pernah diikut sertakan dalam The 35th International Independent Film Festival Brussels, Belgium tahun 2008. Kekuatan pengadeganan dan storytelling dalam megemas video musik menjadi pendekatan komunikasi yang disukai.
Kematangan ini diperoleh karena sering terlibat dalam pertunjukkan teater sebagai sutradara atau pun aktor.
Menemba ilmu di Pusat Perfilman Haji Usamar Ismail (PPHUI) dimana ia memfokuskan pilihannya menjadi sutrada.

Muhammad Akbar Novirwan
Video musik memiliki daya jelajah yang mengasikkan untuk ekloporasi dan media rekreasi. Lulusan Curtin University Australia dan Raffles Design Institute Singapore ini lebih dikenal dengan nama Agam Yunus.
Menyutradari video musik adalah kompromi antara kepentingan marketing dan idealisme.
Selain menyutradarai dapat juga berperan ganda sebagai DOP atau pun editor.

Sidi Saleh
Karirnya berawal sebagai DOP. Baik TV commercial, video profile hingga video musik. Sidi saleh kini memfokuskan pada penyutradaraan.
Lulusan Institut Kesenian Jakarta ini selalu memaksimalkan kesempatan terkecil hingga memiliki impact pada penikmat videonya. Ketajamannya akan visual menjadi point lebih dalam merangkai antara adegan ke adegan lainnya.

Banguntaga
Kecintaannya akan animasi membuatnya terus memaksimalkan dalam media video musik. Seringkali menggabungkan antara live shoot dan animasi.
Ia menyakini video musik mampu memvisualisasikan citra dari penyanyi/ band.
Komunikasi yang efektif mampu “mengenai” target pendengarnya lewat audio visual; terutama video klip.


Showreel


Contact
Jl Tebet Barat Dalam I E No. 3 Jakarta Selatan
Telp/ Fax – 831 20 33
Mobile – 0813 99 35 09 01 (taga) / 0856 8583 929
Email – mutumata@gmail.com

Selasa, 08 Maret 2011

Kerja Bareng Sidi Saleh

Ini hasil kerja bareng sama Sidi Saleh...


Artis yang sama dengan lagu yang berbeda... gw ngerjain post production nya...


Go Kill Sob...!!

Dengan Lagu Hati Berkata


Denganmu pokoknya lah ta....