halaman

Senin, 21 Juni 2010

Makna yang agung.



Ketika makna pernikahan ada.
Untuk menjalin ikatan dan menyempurnakan keyakinan beragama kita.
Tanpa embel-embel, niat suci
dan berjanji pada pencipta.


Tanggung jawab itu dimulai; dengan penuh kasih.


....


"Waduh, ga bisa nikah ngelakahin Kakak !" Teriak seorang Kakak pada adiknya. Paradigma yang ada di tengah masyarakat kita. Entah dari mana dimulainya. Mitos bahwa si Kakak akan seret jodoh kalau si adik menikah lebih dahulu dari dia.


Tiba-tiba manusia malah bikin susah dirinya sendiri. Niat baik malah di halangi... Padahal tau kalau Jodoh itu bukan kita yang memberikan.


Tidak berhenti di situ saja, ketika pernikahan menjadi arena penunjukkan status sosial. Bentuk kemapanan dan penunjukan pencapaian keluarga. Pernikahan dihiasi gemerlapnya keduniawian. 
Betul hari itu (pernikahan) menjadi hari yang penting dalam setiap manusia, manusiawi sekali. Pada akhirnya makna itu seperti memudar. Merasa tidak pantas jikalau mengundang tamu dengan ala kadarnya. Merasa tidak menghargai tamu yang datang kalau saja hari itu tidak gemerlap. Gedung yang layak, hidangan yang melimpah, dekorasi yang megah, perhiasan dan make up yang mahal... sungguh itu baru sebagian dari pernak-pernik gemerlapan pernikahan yang ada di masyarakat kita.


Tidak salah memang berbuat sebaik mungkin, namun perlukah itu hanya untuk menunjukkan ke eksistensian?


Satu lagi yang saya ingat, pernikahan di batasi oleh asal muasal. Dari mana dan siapa keturunannya. Mau di bilang itu kolot banget, kenyataannya itu masih bercokol di tengah-tengah masyarakat. Sungguh kita merasa bahwa perbedaan itu tidak layak untuk ada. Bahkan saat itu kita lupa arti dari saudara dan manusia itu sendiri.


....


"Saya nikahkan anak saya .... "


Itu hanya kata-kata, saya yakin itu. Namun ketika kita meyakini itu adalah janji antara kita dan pencipta kita, maka itu tidak sekedar kata-kata yang menderas dari mulut saja.


"Saya terima nikahnya ....."


Itu janji si Pria kepada penciptanya dan pertanggung jawaban dia dengan bapak si perempuan. Sesederhana itu ikatan suami-istri terjalin, tentu lewat ahli nikah disana. Kok ya sekarang ini jadi tidak sesederhana itu ??


....


Kita merasa penting unutk membuat hari itu begitu berharga. Hiasan bukan lagi kiasan.
Orang yang datang bukan lagi mengirimkan doa; mereka hanya memberi selamat dan mencari celah-celah keduniawian.


Jepretan foto bukan hanya sebagai pengabadi waktu diakan datang, kini menjadi kewajiban.


Merasa itu semua hanya sebagai pelengkap bagi gue, makna yang agung tentang pernikahan sepertinya meluntur.




“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)


....


Sungguh banyak hal yang saya tidak tahu. Keterbatasan tentang memahami dan mengecap itu semua. 


Namun banyak hal yang saya sulit untuk mengerti tentang makna pernikahan yang agung dengan makna pernikahan yang ada kini. Percampuran budaya dan moderenisasi malah membuat yang sunah menjadi wajib. Wajib menjadi sunah.


Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.

Rabu, 12 Mei 2010

Melompat lebih tinggi

Semua teori sudah disimpan dalam catatan kecil itu, tak pernah di bawa saat aku mulai menerjang matahari. Kadang masih terlintas


namun sudah kuhempaskan,


semua hanya petuah. Didengar saja bukan dihafal.


Bukankah yang terpenting tahu teori berfikirnya, bukan menghafal abjad yang tertera dari analisis para profesor. Buat apa dihafal kalau menjadi mekanis. Akal memang perlu, 


Yang penting jangan jengan untuk mendengar petuah-petuah itu. Sekali lagi bukan untuk dihafal, semua akan berubah menjadi candu.


Buatlah petuah itu sendiri. Buat

Jumat, 09 April 2010

Blog ini jadi saksi


Januari 2009 gue cukup intens tuker pikiran sama mas Lanang (alm.) Ada beberapa postingan yang tersimpan di blog ini... dan punya kegelisahan yang sama tentang kelokalan dan nusantara, infonya kadang gue ga terlalu tau tapi dari obrolan itu jadi ngeh...

Beberapa link postingan itu :

Tengkyu Nang!

Rabu, 07 April 2010

Lanang Lega Dilaga



Pertemuan dalam project video klip Janice. Dari situ penilaian gue kalau Lanang orang yang total. Ngurusin dari mulai ribetnya import data kamera F355 sampai ngedit offline. Singkat memang...

Setelah itu sempat beberapa project bersama tapi sebuah pertamanan yang tercipta rasanya lebih bernilai dari pekerjaan kita.

...

Penuh kejutan. Ada di kawan gue ini. Lebih dari itu gue mengenal sosok yang taktis namun ga banyak bicara langsung. Anehnya kalo lagi berdua ngobrol dia bisa jadi temen yang hangat buat tuker pikiran. Beberapa bungkus rokok dan malam menemani kita Nang... keseriusan dan kekonyolan kita lewatin, selalu gue simpen itu. Temen yang selalu total kalau ngebatuin. Walaupun suka ga bisa menetupi keemosiannya, buat gue elu sosok dewasa Nang.

Romantis. Tampilan elu yang cuek ga bisa nutupin keromantisan, kehangatan dan perhatian elu ke orang-orang yang elu anggap berarti.

Bahkan sama orang yang baru kenal pun elu hangat dan bersahabat.

Gue sampai lupa kapan kita berkenalan saat project klip Janice itu, rasanya baru beberpa tahun yang lalu. Tapi gue kenal elu kayak udah lama. Kadang elu ngasih pemikiran dan masukan buat gue. Walaupun kita ga pernah menyentuh wilayah pribadi diri kita masing-masing.

Gue kenal Lanang yang ga mudah nyerah dan tenang walau dalam kondisi tertekan. Dalam pekerjaan gue liat itu... bahkan dalam waktu yang sempit sekalipun.

Banyak yang masuk di hidup gue, dan elu salah satu yang masuk dan ngasih bekas. Punya arti...

....

Januari 2010 kemarin elu mulai sakit, sampai detik elu kritis pun gue ga pernah ketemu langsung lagi sama elu. Gue cuma ketemu pas pinjem charger mac, itu pun elu mulai sakit. Paling kita ketemu di dunia maya, gue cuma seru-seruaan doang sama elu, kali itu intensitas ngonrol kita memang semakin berkurang. Gue pernah tanyan "Udah sembuh nang?"... elu jawab "udah". Gue rasa elu memang merasa ga pernah sakit, karena elu punya sikap.

Nang gue tau elu mungkin ga akan bisa baca blog ini, karena elu udah disana. Penyesalan gue yang ga bisa nemuin elu pun ga akan ada guna "Nyesel cuma buat bencong!"

...

6 April 2010 elu benar-benar istirahat. Elu menutup keduniawian  di tempat yang elu selalu suka; rumah.  hari itu dimana niatan gue buat dateng setelah Jati jam 2 pagi ngabarin tentang kondisi elu yang makin turun.

Nang gue tau elu suka diperhatiin walaupun kadang elu enggan. Gue cuma bisa merhatiin ketika di hari elu menuju hidup baru. Gue lihat di hari itu elu begitu dicintai banyak orang, di facebook elu begitu banyak doa dan simpati. Mungkin elu ga akan bisa bales komentar mereka di facebook sekarang, tapi disitulah gue melihat elu begitu berarti.
Tengkyu nang, gue selalu merasa elu tetep ada. Karena kita jarang bertemu. Sekalinya ketemuan kita bisa gila-gilaan sampe lemes. Gue tetep merasa kelakuan elu tetep hidup. Gue tetep merasa kalau blog ini jadi catatan pemikiran elu, beberapa postingan disini hasil diskusi kita berdua... terutama kegelisahan tentang kelokalan dan nusantara.

....

Selamat hidup Nang; elu baru saja memulai kehidupan...

Tetap lurus ya Nang...