Huhehehe.. dangdut dah tuh judul.
Dari kemaren pingin banget posting tapi kayanya begitu buka GElaskosong jadi enggan. Saking banyaknya yang mau di tulis jadi kepenuhan sendiri. Sekarang malah nulis tanpa rencana.
...
Hal yang kecil itu yang sering luput, kadang malah di anggap remeh-temeh.
Jumat, 16 Oktober 2009
Rabu, 14 Oktober 2009
Rabu, 23 September 2009
NgeBlog di usia 2 tahun
Mulai cerewet!
Layaknya manusia di usia 2 th, mulai cerewet. Mulai nyari perhatian, mulai nyebelin. Juga ngegemesin...
Blog yg sering gue jadiin santapan juga belum banyak, kurang lebih yang ada di Link GElaskosong itu ajah, tapi dari situlah pencerahan datang menyinari huehehe...
Masih mencoba mencari bentuk terbaik dari blog ini, kalau pun ga sampe jadi yg terbaik paling ga tetep Maksimal. Biar nama blognya ga jadi sekedar tempelan.
...
Berkembang sesuai usia. Gue yakin itu akan terus berkembang, seperti hidup. Pandanga gue tentang hidup selalu bergerak, dinamis dan ga mau diem. Hasrat itulah yang mengembangkan gue, mengayomi sekaligus membesarkan gue di kesaharian ini. Seolah kaya orang tua bagi gue.
Tergelitik sama postingan Raditya Dika soal "Blog Diary anak SD", jangan-jangan tagamaksimal ini masih seperti itu? masih curhat dengan bentuk yg monoton. Bentuk yg ga jauh beda sama diary SMP gue yg bisa di baca banyak orang. Huh! rasanya masih begitu...
Kejutan di postingan gue yg mesti di benahi. Di kuatkan. dan di Tajamkan. Ini jadi target gue. Bagaimana membuat blog ini enak di baca, berirama kaya denger albumnya coldplay yang baru. Punya nuansa, bisa bikin orang pingin tau ada apa lagi di dalemnya. Pingin bikin tulisan yang emang Jujur.
Satu hal gue ga mungkin nyenengin banyak orang.
Jadi lewat tagamaksimal yg berusia 2 tahun ini (belom sampe sih) gue mencoba nyenegin sebagian orang. Lewat postingan, lewat pemikiran gue yang sering berkelebatan. Menyenangkan orang dan diri sendiri.. Manjadi anak-anak yang ga bosen terus di isi. Ga apa-apa jadi anak SD juga deh, biar semuanya dateng tepat pada waktunya. Mencari bentuk tulisan blognya sendiri
Ga perlu terburu-buru.
Seperti bloger-bloger kesayangan gue. Ga perlu terburu-buru kalo ngeBlog.
Layaknya manusia di usia 2 th, mulai cerewet. Mulai nyari perhatian, mulai nyebelin. Juga ngegemesin...
Blog yg sering gue jadiin santapan juga belum banyak, kurang lebih yang ada di Link GElaskosong itu ajah, tapi dari situlah pencerahan datang menyinari huehehe...
Masih mencoba mencari bentuk terbaik dari blog ini, kalau pun ga sampe jadi yg terbaik paling ga tetep Maksimal. Biar nama blognya ga jadi sekedar tempelan.
...
Berkembang sesuai usia. Gue yakin itu akan terus berkembang, seperti hidup. Pandanga gue tentang hidup selalu bergerak, dinamis dan ga mau diem. Hasrat itulah yang mengembangkan gue, mengayomi sekaligus membesarkan gue di kesaharian ini. Seolah kaya orang tua bagi gue.
Tergelitik sama postingan Raditya Dika soal "Blog Diary anak SD", jangan-jangan tagamaksimal ini masih seperti itu? masih curhat dengan bentuk yg monoton. Bentuk yg ga jauh beda sama diary SMP gue yg bisa di baca banyak orang. Huh! rasanya masih begitu...
Kejutan di postingan gue yg mesti di benahi. Di kuatkan. dan di Tajamkan. Ini jadi target gue. Bagaimana membuat blog ini enak di baca, berirama kaya denger albumnya coldplay yang baru. Punya nuansa, bisa bikin orang pingin tau ada apa lagi di dalemnya. Pingin bikin tulisan yang emang Jujur.
Satu hal gue ga mungkin nyenengin banyak orang.
Jadi lewat tagamaksimal yg berusia 2 tahun ini (belom sampe sih) gue mencoba nyenegin sebagian orang. Lewat postingan, lewat pemikiran gue yang sering berkelebatan. Menyenangkan orang dan diri sendiri.. Manjadi anak-anak yang ga bosen terus di isi. Ga apa-apa jadi anak SD juga deh, biar semuanya dateng tepat pada waktunya. Mencari bentuk tulisan blognya sendiri
Ga perlu terburu-buru.
Seperti bloger-bloger kesayangan gue. Ga perlu terburu-buru kalo ngeBlog.
Biarkan Tanah Menjemputnya
Bagaimana manusia di ujung hayatnya? setelah roh terlepas. Lantas? berbagai tradisi mewarnai. Menjadi abu, menyatu dengan tanah hingga hilang tak berbekas. Lalu siapa yang punya kuasa menentukkan dimana kita memutuskan meninggalkan jasad ini?
Siapa yang berhak melarang?
...
Sungguh saya sempat teriris ketika orang-orang PKI dilarang dimakamkan kembali di daerahnya. Warga setempat merasa derahnya akan "tercemar". Mereka anti komunis.
Begitu pun saya kembali menganga setelah tadi meyaksikan adegan yang tidak begitu berbeda di televisi, warga kudus menolak jenazah orang yang dianggap teroris. Mereka keberatan saat daerhanya ada kuburan teroris.
Apa pun sifat dan sejarah mereka yg mati, ketika mati mereka tinggallah jasad. Semuanya hanya fisik. Tak ada arti dan guna. Biarkan saja terpejam dan menyatu dengan tanah. sebagaimana di riwayatkan. Mengapa mereka takut? Siapa yang tidak melihat sebagai manusia.
manusia.
bukan komunis ataupun teroris.
mereka manusia, sama
seperti
Kita.
...
Ini tanah milik siapa? ini tanah tak akan mencemarkan kebaikan dan keburukkan seseorang? ini tanah tak akan menandakan siapa baik siapa jahat... ini tanah punya caranya sendiri. Kalau hendak menolak ia pun menolak. Kita tak berhak! meamngnya kita lebih mulia dari komunis dan teroris.
Langganan:
Postingan (Atom)