halaman

Sabtu, 21 April 2012

Satu pesan untukmu, Nak.


Melangkah Nak,
Jangan ragu. Karena tidak ada keragu-raguan.

Kadang yang terlihat tidak selamanya benar-benar ada.

Jangan salah melangkah. Jangan mudah dipencundangi dunia.

Selalu hati-hati. Karena Kau akan selalu awas kapan pun.
Bawalah radar keimananmu, sehingga mudah mendeteksi mana perangkap
dan yang mana emas.

Kalau pun terjerat. Ingatlah satu langkah pertama ketika memulai ini.

Sabtu, 14 April 2012

Sepeda Motor (ga mau kalah)

Mengeluh soal macet ga akan ada guna di Jakarta. Dari ujung ke ujung semuanya pasti ada titik itu. Selebar apa pun jalan tetep pasti lama-kelamaan akan padat. Jumlah kendaraan semakin sumpek.

Berhenti lah mengeluh! Jalanan punya banyak cerita. Punya setumpuk ide yang terselip disana.

....

Pengendara sepeda motor nyemut setiap hari. Tengoklah setiap lampu hijau di pacu, persis kaya balapan motor. Sepeda motor bisa nyalip-nyalip, bisa melaju di tengah kemacetan. Satu lagi sepeda motor bisa bikin orang merasa sama-sama satu keyakinan lewat komunitas-komunitasnya.

Stop sampai mendeskripsikan sepeda motor! semua pasti udah bega sama itu. Tengok sebentar hal lain...

Kebiasan yang sering gue temuin pengendara motor kaya DIKEJAR SESUATU apa lagi NGEJAR SESUATU (teteh Sharini pasti demen nih seuatunya gue sebut berulang-ulang).  Kenapa ya? Kalo merasa dikejar, dikejar apa? siapa?
waktu kah?
Deadline kah?
Keluarga kah?
Pacar kah?
Kerjaan kah?
atau Tuhan kah?
Yang jadi pertanyaan gue, "kenapa mesti ngerasa ladi dikejar-kejar?". Apa ada yang buntutin si pengedara, jadi si pengendara berasa takut ketangkep. *garuk-garuk kepala

Atau kalau lagi ngejar sesuatu, apa juga yang dikejar. *garuk-garuk kepala lagi (kali ini karena ketombean)

Kalau memang jiwa pengedara motor kita serba cepat, tukang salip tukang ngebut. Kenapa sampai sekarang kagak ada yang masuk motor GP. Sekalian dong, kalo jago ngebut!!

Berbahagialah gue kalau ternyata mindset pengendara motor di ibukota tukang salip dan ga mau KALAH. Kenapa bahagia... ya paling ga masih ada keinginan untuk maju hehe. Kenapa sih jiwa tukang salip dan ga mau kalah itu ga di tempati buat hal-hal lain... Bangsa ini udah parah sob. apa yang bisa kita majuin ke orang-orang di luar sana kalau kita "Bangsa yang besar".. slogan itu cuma ada di buku PPKN.

Kenapa ga sekalian salip tuh negara-negara asia tenggara. Salip juga jepang... atau sekalian Salip Cina. Malah kenapa ga di pake buat nyalip kehebatan teknologi, pengetahuan, sumber daya manusia di negara-negara maju... lagi-lagi kita cuma berani nyalip metromini.

Izinkan diriku juga berkaca. Kalau memang kita bisa serba pingin cepat dari yang lain (faktanya di jalanan pengendara seperti itu) Kenapa kita terlalu lambat bergerak maju dalam segala aspek..
Kenapa kita terkenal manusia-manusia lambat dan ngaret.
KENAPA kita semua rela bangsa lain nyalip kita dengan segala kemajuannya.
Apa kita cuma figuran? kalau memang figuran sekalian aja deh kita jadi figuran yang paling total.

(Satelit Palapa, zaman ini sudah berakhir!! kemana jiwa para penemu itu)


Kenapa jiwa cepat, ngebut, tukang salip ini ga di aplikasiin di segala bidang.
Cari cara energi ini bisa tepat guna. Bisa jadi energi positif atau ga usah muluk-muluk deh... paling ga kita bisa NYALIP KEBIASAAN  KALAU KITA INI TIDAK BOLEH PINTAR. CUKUP TAHU. SAMPAI TAHU SAJA. Kenapa kita ga mau nyalip kebiasaan ini.

Seharusnya kita bisa bergerak, bahkan melajuuu. Karena jiwa pengendara motor ini ada di setiap lapisan masyarakat kita.

GA MAU KALAH!

Jumat, 16 Desember 2011

Samudera tetap legawa, tetap asin.





"Baca, baca dulu" 


Teks diatas sangat melekat dalam beberapa hari ini. Saya paksa diri ini untuk kembali membaca. Memang kala ga terlalu padat sama pekerjaan waktu lebih leluasa, lebih longgar dan bisa ngelakuin hal-hal lain. Emang males banget bawaannya kalau mau baca, tapi begitu dapet bacaan yang "merangsang" akhirnya sulit berhenti.


Dan beberapa bacaan yang mampu merangsang itu gue simpan di posting ini,


Sering banget udah merasa cukup. Terlalu sering merasa paling bener dari orang lain.
Sering banget...
Keadaan kah yang buat jadi pribadi begitu? (senyum kecil) jangan cuma bisa nyalahin.


----


"Samudera itu menerima apa pun. Badai. Hujan. Lahar Merapi dan sampah-sampah rumah tangga yang mengalir lewat sungai-sungai. Juga ludah orang yang berenang di pantai. Samudera tetap legawa, tetap asin."
(aa kunto a)


Tentram rasanya.


Baca dulu ya....

Senin, 12 Desember 2011

Sebatang rokok dan air putih di waktu pagi

Bukan rahasia bila imajinasi
lebih berarti dari sekedar ilmu pasti
bukan rahasia bila aku adalah seorang pemimpi
dan aku bukan lah satu satunya di dunia ini



(Dewa 19 - Bukan Rahasia)


Blog? media satu arah, walau kadang bisa menjadi dua arah. Gue suka menghayal bahwa dengan rangkaian tulisan bisa mereflesikan apa yang di pikirkan oleh penulisnya, membuat orang terpengaruh, lalu beranjak.
Blog di gunakan untuk menuliskan apa yang di pikirkan, sangat subyektif. Kadang kontrofersial!


Blog itu konvensional bagi gue, menulis. Merangkai kata-kata, menempatkan point di setiap paragraf. Berharap menjadi cerita yang mengalir, selayaknya tulisan dari pengarang-pengarang buku terkenal. Lebih personal. Tanpa bermaksud membandingkan dengan status pada jejaringan sosial lain tentunya, blog kadang bisa lebih "intim".


Sayang beberapa bloger yang dulu rajin memposting tulisannya sekarang seperti tidak lagi menggubris, tidak lagi membagikan cerita-ceritanya di blog. Era ini sudah habis, hanya segelintir yang masih aktif. Tapi tetap saja ada. Gue termasuk yang bisa terpengaruh sama tulisan-tulisan di blog. Gue bisa merasa "Ih, gue banget sih?!" pas baca postingan bloger. Kadang juga bisa ngerasa malu, "Kok bisa ya orang itu kepikiran kaya gituu...". Sebenernya bukan sesuatu yang istimewa, karena apapun bacaan bisa bikin kita kaya gituu...


Kembali lagi soal gue selalu berhkayal blog ini bisa jadi refleksi sekaligus media berbagi. Kenyataannya, setelah semua dilewati, ga perlu tuh berekspetasi kaya gitu...jadi ga terlalu penting. 


Sampai pada akhirnya, biarin aja blog ini ada, ga perlu juga orang baca atau tergugah. Itu hak setiap individu.
Kalau pun ada yang baca, semua bisa punya tanggapan berbeda. Terus kalo ga ada yang baca?
Ya ga apa-apa juga, kan gue bisa baca-baca lagi hehe..


-------------


Kebayang deh kalo internet 25 tahun lagi masih ada, Bloger masih ada. Blogspot gue masih ada di dunia maya. Mungkin ini jadi wisata nostalgia, tulisan gue saat ini. 
Mungkin kalau gue baca tulisan gw 4 tahun yang lalu,  bisa bikin nyegir-nyegir sendiri, atau malah gue katain cupu hehe...


Kebayang deh kalo ternyata ini jadi warisan; buat anak gue kelak. Ga perlu denger cerita, cukup baca saja ini Nak...




"Untuk tahun 2037"